AKPY, BPDP dan Ditjenbun Bersinergi Dukung Petani Sawit Kalbar Tingkatkan Produktivitas

0

Kegiatan pelatihan petani sawit dalam rangka meningkatkan kapasitas petani terus berlanjut di berbagai daerah sentra sawit. Setelah merampungkan pelatihan petani sawit 4 batch di Sumatera Selatan dengan berbagai (tema) pelatihan, program pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS), Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) kembali melangsungkan kegiatan serupa di provinsi Kalimantan Barat.

Upaya tersebut dalam rangka mengimplementasikan program pengembangan SDM PKS 2025, dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dengan melibatkan petani sawit yang direkomendasikan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian RI. Dengan kata lain, pelatihan terlaksana adanya kolaborasi antara BPDP, Ditjenbun dengan AKPY selaku mitra penyelenggara.

Pelatihan yang diselenggarakan AKPY di Pontianak, diikuti peserta (petani sawit) dari Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sekadau, dilaksanakan selama lima hari (25 – 29 Juni 2025), di salah satu hotel ternama di Pontianak, Kalimantan Barat.

Plt Wakil Direktur AKPY, Indra Kurniawan, SP, M.Si sekaligus Akademisi dari AKPY ‘STIPER’, mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, SP,MP, menyampaikan petani sawit dari Kabupaten Bengkayang dan Sekadau yang saat ini mengikuti pelatihan merupakan petani yang beruntung. Sebab, tidak semua petani sawit yang ada di Indonesia mendapatkan kesempatan ini.

“Sesuai dengan rekomendasi teknis dari Ditjenbun, ada 60 peserta dari Kabupaten Bengkayang, terbagi menjadi dua, 30 peserta mengikuti pelatihan ‘Teknis Budidaya Kelapa Sawit’, dan 30 peserta mengikuti pelatihan ‘Pengelolaan Sarana dan Prasarana Perkebunan’. Sementara, 30 peserta dari kabupaten Sekadau mengikuti pelatihan ‘Teknis Budidaya Kelapa Sawit’. Jadi total ada 90 peserta dari dua kabupaten (Bengkayang dan Sekadau). Pelatihan ini merupakan pelatihan petani sawit program pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2025, batch V yang diselenggarakan AKPY, selaku mitra penyelenggara,” ujarnya, saat menyampaikan sambutan, pada Kamis (26 Juni 2025).

“Komoditas kelapa sawit di Indonesia merupakan komoditas yang menjanjikan. Di Indonesia, total luasan lahan kelapa sawit sekitar 16,38 juta ha, kurang lebih 40% dari total luasan dikelola oleh masyarakat (petani). Data yang kami miliki, luas kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat, ada sekitar 1,8 juta ha atau sekitar 11% dari total luasan nasional,” imbuh Indra.

Diharapkan usai pelatihan ilmu diterapkan

Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas para petani sawit, pada aspek teknis budidaya dan pengelolaan sarana dan prasarana perkebunan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia (SDM) di industri sawit memiliki kompetensi, daya saing, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan menuju industri sawit yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, Indra mengatakan saat ini industri sawit menghadapi beragam tantangan dan mulai dari teknis dan non teknis.

“Untuk itu, melalui pelatihan ini diharapkan para petani sawit khususnya dari Kabupaten Bengkayang dan Sekadau yang mengikuti pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitasnya agar mampu menghadapi tantangan yang ada. Maka, kami harapkan semua materi yang disampaikan instruktur dapat diterima dengan baik sehingga dapat mengaplikasikannya minimal di kebun masing-masing sesuai dengan Good Agriculture Practices (GAP). Sehingga dari sisi teknis budidaya dan pengelolaan sarana dan prasarana lebih baik dapat meningkatkan produktivitas dalam rangka mendukung perkebunan sawit berkelanjutan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bengkayang, Dr. Yulianus, S.Hut, M.Si, menambahkan pentingnya diadakannya pelatihan petani sawit yang melibatkan stakeholders hingga tingkat daerah (kabupaten), tujuannya tak lain untuk keberlanjutan perkebunan sawit di Indonesia.

“Perlu diketahui, produktivitas kebun milik petani masih cukup rendah, sementara potensi masih bisa ditingkatkan. Untuk itu, pelatihan ini penting diadakan untuk para petani agar bisa meningkatkan produksi dan produktivitas kebunnya. Di sisi lain, kalau teknis budidaya dan pengelolaan sarpras-nya baik maka ujung-ujungnya pendapatan petani juga akan meningkat, karena pengelolaan kebunnya lebih ekonomis. Agar tidak lagi ada perluasan lahan sawit melainkan lebih mengutamakan intensifikasi,” ucapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero, S.P., M.Si. Pihaknya menegaskan bahwa pelatihan teknis budidaya dan pengelolaan sarpras untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sawit yang dimiliki dan dikelola petani.

“Kenapa ini diadakan? Harapannya petani sawit dapat mengelola kebunnya sesuai dengan Good Agriculture Practices (GAP). Ke depan, petani sawit harus memiliki sertifikasi keberlanjutan kebun sawit (ISPO). Maka, setelah pelatihan ilmu yang sudah didapat diterapkan, selanjutnya disebarluaskan ke petani sawit lainnya. Sehingga perkebunan sawit yang dikelola petani produktivitasnya bisa meningkat” ucapnya.

Kegiatan pelatihan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kapasitas pekebun sawit rakyat agar semakin siap menghadapi dinamika industri kelapa sawit yang terus berkembang. Melalui sinergi antara BPDP, Ditjenbun, AKPY, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan lainnya, diharapkan hasil dari pelatihan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan individu peserta, tetapi juga mampu memperkuat petani sawit di tingkat lokal.

Untuk melengkapi pemahaman dalam memahami materi ‘Teknis Budidaya Kelapa Sawit dan Teknis Pengelolaan Sarana Prasarana Perkebunan, peserta mendapat kesempatan kunjungan ke perusahaan perkebunan (Hartono Plantation Indonesia), yang dilakukan pada Sabtu (28 Juni 2025). Pada kesempatan itu, peserta didampingi instruktur mendapatkan penjelasan dari pihak perusahaan terkait dengan materi yang telah dipelajari di kelas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini