Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengusulkan penambahan kuota Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng rakyat atau Minyakita dari 35 persen menjadi 65 persen.
Rizal mengusulkan kenaikan tersebut untuk mengatasi kelangkaan pasokan di pasar tradisional sekaligus mengamankan stok untuk program bantuan pangan nasional.
Saat ini, jatah DMO 35 persen dibagi kepada tiga entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dengan porsi 70 persen untuk Bulog, 20 persen untuk ID Food, dan 10 persen untuk Agrinas Palma.
“Nah dari yang 70 persen itu kita satu bulannya dapat 40.000 sampai 45.000 kiloliter. Kalau nanti dinaikkan jadi 65 persen berarti nanti bisa naik mencapai sekitar 60 sampai 70.000 kiloliter,” katanya.
Rizal menegaskan, tambahan pasokan tersebut sangat dibutuhkan mengingat Bulog tidak hanya bertugas menjaga stabilitas pasokan di pasar, tetapi juga menjalankan penugasan pemerintah dalam penyaluran bantuan pangan.
Menurutnya, kebutuhan minyak goreng untuk program bantuan pangan saat ini cukup besar, seiring jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang mencapai lebih dari 33,2 juta orang.
Karena itu, peningkatan DMO dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus memastikan distribusi berjalan optimal.
“Bantuan pangan saat ini juga besar jumlahnya dari Bapak Presiden yang luar biasa perhatian beliau kepada masyarakat yaitu sebesar 33 juta penerima manfaat lebih ya,” ujarnya.
Terkait dampak usulan kenaikan DMO terhadap produsen, Rizal menegaskan bahwa kewenangan tersebut berada di ranah Kementerian Perdagangan. Bulog, kata dia, hanya mengajukan usulan berdasarkan kebutuhan di lapangan.
“Kalau itu mungkin core bisnisnya teman-teman Kementerian Perdagangan. Kami hanya mengajukan dan mudah-mudahan bisa segera di-follow up,” katanya.
Di sisi lain, Bulog memastikan akan terus melakukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan minyak goreng di pasar. Salah satunya melalui operasi pasar yang digelar lebih dini ketika muncul indikasi kenaikan harga atau kelangkaan barang.
“Saya sudah instruksikan ke seluruh Pimwil dan Pinca se-Indonesia untuk melakukan operasi pasar. Jangan sampai harga sudah terlalu tinggi baru kita bergerak, nanti akan sulit menurunkannya,” ujarnya.
Ia menekankan, langkah preventif menjadi kunci agar gejolak harga tidak semakin melebar. Dengan intervensi sejak awal, diharapkan stabilitas pasokan dan harga Minyakita tetap terjaga di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.






























