Astra Agro Kenalkan Digitalisasi Perkebunan Sawit kepada Mahasiswa Agribisnis IPB

0

Di tengah gencarnya transformasi digital di sektor agribisnis, PT Astra Agro Lestari Tbk mengajak puluhan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melihat langsung bagaimana teknologi mulai mengubah tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sebanyak 55 mahasiswa dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, mengikuti pemaparan dan diskusi mendalam mengenai digitalisasi yang kini menjadi strategi inti perusahaan.

“Digitalisasi adalah bagian penting dari upaya kami memperkuat ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Direktur Astra Agro, Bandung Sahari, dalam sesi dialog yang digelar akhir Oktober lalu. Ia menyebut industri kelapa sawit masih punya ruang besar untuk dikembangkan, namun hanya bisa bertahan jika mampu menjawab tantangan melalui inovasi.

Transformasi itu, kata Bandung, mencakup penggunaan teknologi data, otomasi operasional, serta integrasi informasi lintas unit bisnis. “Kami ingin teman-teman mahasiswa bukan hanya memahami industri ini dari sisi teori, tetapi juga melihat langsung arah perkembangannya,” tuturnya.

Selama kegiatan, para mahasiswa diperkenalkan pada sistem digital seperti Plantation Information Management System (PIMS), platform yang mengelola operasional kebun secara real-time. Sistem ini mengintegrasikan proses pemanenan, transportasi, hingga pengolahan CPO, sehingga keputusan manajerial dapat diambil berbasis data, bukan sekadar laporan manual.

Dua sistem analitik lain, AMANDA (Astra Agro Mandiri Data Analytics) dan DINDA (Digital Integrated Data Application), digunakan untuk mengolah data produktivitas, memprediksi risiko, dan mendeteksi penyimpangan operasional di lapangan.

Pemanfaatan drone dan citra satelit juga menjadi bagian dari digitalisasi. Teknologi itu membantu memetakan kondisi tanaman, mengontrol area replanting, serta memantau kesehatan kebun dengan presisi yang sebelumnya mustahil dilakukan secara manual. Sementara aplikasi SISKA 2.0 dikembangkan untuk meningkatkan transparansi transaksi TBS antara perusahaan dan petani, termasuk pelacakan ritase dan harga secara digital.

Vice President of Human Capital & General Affairs Astra Agro, Dungdang P. Hutapea, menyebut digitalisasi bukan hanya soal alat, tetapi perubahan fondasi kompetensi SDM. “Industri ini kini membutuhkan ahli data, pengembang aplikasi, analis satelit, dan agronom yang paham algoritma,” ujarnya.

Ketua Departemen Keprofesian HIPMA IPB, Yanuar Afrizal Hidayat, menyebut kunjungan ini membuat gambaran mengenai masa depan industri sawit semakin konkret. “Apa yang dipelajari di kelas rasanya berbeda ketika melihat aplikasi di dunia nyata. Digitalisasi membuat industri ini lebih menarik bagi generasi kami,” katanya.

Diskusi interaktif di penghujung acara membahas isu lebih luas: dari keberlanjutan industri sawit, sertifikasi global, hingga peluang riset kolaboratif antara kampus dan korporasi. Para mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan seputar peluang magang, riset data perkebunan, hingga prospek karier di sektor yang kerap dipersepsikan konvensional itu.

Bagi Astra Agro, kegiatan semacam ini bukan sekadar berbagi pengetahuan, tetapi menyiapkan sumber daya manusia yang akan membawa industri sawit masuk ke fase baru—industri yang tidak lagi hanya bertumpu pada lahan, tetapi juga pada informasi.

“Ke depan, kompetisi di sektor agribisnis bukan hanya soal luas kebun, tapi kecepatan adopsi teknologi,” ujar Bandung Sahari. “Dan generasi muda akan berada di garis depan perubahan itu.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini