Ratusan petani sawit swadaya berkumpul di Lamandau untuk mengikuti Farmer Field Day (FFD), ajang temu lapang yang digelar Solidaridad sebagai bagian dari penguatan kapasitas alumni Sekolah Lapangan (SL) kelapa sawit. Acara ini dirancang untuk memperkuat jejaring antarpetani sekaligus memperbarui pengetahuan tentang praktik perkebunan sawit yang produktif dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Meningkatkan Produktivitas dan Praktik Berkelanjutan Melalui Jejaring Alumni yang Kuat”, FFD juga menjadi bagian dari pelaksanaan Rencana Aksi Daerah Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAD KSB) 2024–2026 Kabupaten Lamandau. Fokusnya: peningkatan kapasitas petani, pengajuan STDB (Surat Tanda Daftar Budidaya), dan percepatan sertifikasi ISPO.
“FFD ini kami bangun sebagai ruang berbagi pengalaman, bukan hanya antarpetani, tapi juga dengan pemerintah, akademisi, perusahaan, dan lembaga keuangan,” kata Yeni Fitriyanti, Country Manager Solidaridad Indonesia. “Tujuannya agar petani dapat terhubung dengan akses informasi, pasar, pembiayaan, serta inovasi yang dapat meningkatkan posisi tawar mereka.”
FFD mempertemukan petani dengan beragam pemangku kepentingan, mulai dari dinas pemerintah, lembaga sertifikasi, perusahaan sawit, hingga perguruan tinggi. Para peserta berdiskusi mengenai cara meningkatkan produktivitas, mengelola serangan hama, merespons fluktuasi harga TBS, dan memenuhi standar keberlanjutan seperti ISPO dan RSPO.
Sesi kunjungan kebun dan booth exhibition turut disiapkan. Politeknik Lamandau menampilkan inovasi pupuk dan kerajinan berbahan limbah sawit, sementara perusahaan peserta memperkenalkan teknologi pertanian presisi, drone monitoring, hingga skema pembiayaan untuk replanting. Di panggung diskusi, Dinas Pertanian dan Perikanan memaparkan kebijakan STDB, akses beasiswa sawit, dan pendanaan dari BPDP-KS.
FFD juga menghadirkan sesi khusus tentang pengembangan produk turunan sawit, termasuk pemanfaatan lidi dan tanaman nipah sebagai sumber usaha alternatif bagi masyarakat desa.
Sejak 2024, program SL Solidaridad telah menjangkau 13 desa di empat kecamatan Lamandau, mencakup luasan 40.043 hektare kebun. Total 760 petani telah mendapat pelatihan, 130 di antaranya diwisuda pada acara FFD tahun ini. Komposisi peserta pun mencerminkan pendekatan inklusif: 573 laki-laki dan 187 perempuan.
Solidaridad berharap FFD tidak berhenti sebagai ajang seremonial, tetapi menghasilkan rencana tindak lanjut yang disepakati para petani—mulai dari pembentukan kelompok mandiri berbasis komunitas hingga perluasan jumlah petani yang masuk kelas SL.
“Sinergi seperti ini penting untuk memperkuat posisi petani sawit swadaya, terutama di tengah tekanan sertifikasi, dinamika pasar, dan tuntutan keberlanjutan,” tutur Yeni menutup sesi.






























