
Permintaan minyak sawit China diperkirakan kembali menurun tahun ini seiring peralihan ke minyak kanola dan kedelai yang harganya lebih kompetitif.
Dikutip dari Reuters, pada Kamis (12/2), kesepakatan dagang terbaru China dengan Kanada membuka akses impor minyak kanola yang lebih murah. Selain itu, peningkatan pembelian kanola dari Australia serta naiknya impor dan aktivitas pengolahan kedelai diprediksi akan menekan impor minyak sawit tahun ini.
Head of Commodity Research Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menyebut kombinasi faktor tersebut akan berdampak signifikan terhadap permintaan sawit China.
Seorang analis sawit dari perusahaan perkebunan besar Malaysia mengatakan, permintaan China memang meningkat karena faktor musiman menjelang perayaan. Namun, volumenya tidak akan setinggi sebelumnya karena China kini memiliki lebih banyak pilihan substitusi seperti kanola dan kedelai.
“China tidak terlalu terdesak karena mereka punya banyak opsi dibanding India. Mereka masih mencermati harga di bursa Dalian,” ujar analis tersebut kepada Reuters menjelang konferensi industri di Kuala Lumpur.
Ia juga menambahkan, harga sawit Indonesia yang lebih kompetitif turut memengaruhi ekspor Malaysia ke China. Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan ekspor Malaysia ke China turun 35,7 persen sepanjang tahun lalu.
Meski demikian, Malaysia berpotensi mengambil peluang dari rencana kenaikan pungutan ekspor Indonesia yang dijadwalkan berlaku pada Maret mendatang.
Sementara itu, seorang analis asal Indonesia memperkirakan harga sawit tahun ini cenderung melemah tipis karena produksi sawit dan minyak kedelai global yang sama-sama kuat.
Walaupun harga sawit turun, China diprediksi tetap meningkatkan impor minyak kedelai, sehingga membatasi ruang kenaikan permintaan sawit.





























