Indonesia telah lama dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia. Namun, menurut Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, nilai tambah dari hilirisasi sawit baru dimanfaatkan sekitar 30 persen dari potensi maksimal.
Hal tersebut dia sampaikan saat menjadi narasumber dalam media briefing bertajuk “Sawit Indonesia: Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan” yang digelar di Hotel Mövenpick Pecenongan, Jakarta, Selasa (10/2).
Tungkot mengatakan, hilirisasi sawit Indonesia dalam 10 tahun terakhir memang mengalami lompatan yang luar biasa. Hanya saja, kata dia, belum mencapai titik optimal.
“Sudah banyak kita hasilkan produk-produk, 900-an produk yang kita hasilkan dari hilirisasi. Tapi itu baru, kalau saya buat skala 0-100, kita baru di angka 30. Artinya apa? Potensi hilirisasi kita masih cukup besar,” ujar Tungkot.
Hingga saat ini, baru sekitar 175 produk yang sudah dipasarkan, padahal riset-riset yang dilakukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) selama ini membuka peluang untuk mengembangkan hingga 750 produk baru.
“Yang kita harapkan nanti ini akan jadi industri dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sehingga apa? Hilirisasi kita itu makin tinggi, baik di jalur oleofood, oleochemical complex, biofuel, dan bioenergy,” ujar dia.
Selain meningkatkan nilai tambah, langkah ini juga bertujuan untuk mengurangi impor bahan pangan berbasis minyak.
Tungkot menambahkan, Indonesia telah berhasil mengembangkan biodiesel sawit, bahkan menjadi yang terbesar di dunia. Langkah berikutnya adalah mengembangkan bensin sawit.
Dia mengatakan, teknologi bensin sawit saat ini sudah tersedia. Sejak 2018, BPDP telah membiayai penelitian perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan bensin sawit dan saat ini telah memasuki tahap pilot project, siap dikembangkan menjadi industri.
“Bayangkan kita masih mengimpor konsumsi bensin kita setahun itu 45 juta ton atau juta kilometer. Itu nanti kita ganti sawit berapa devisa yang bisa kita hemat. Itu sangat besar sekali,” ujar dia.
Lebih jauh, dia menjelaskan, komponen terbesar dari produksi sawit bukan minyak, yang hanya 25–30 persen, melainkan biomas, seperti tankos, pelepah, dan batang. Jumlahnya sangat besar, namun selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Yang terbesar itu adalah biomasnya, seperti tankosnya, pelepahnya, batangnya. Itu yang luar biasa besar. Itu belum kita jamah. Nah sekarang ke depan itu potensinya sangat luar biasa,” jelas Tungkot.
Menurut dia, sudah banyak peneliti di perguruan tinggi telah menghasilkan inovasi berbasis tankos, mulai dari etanol, emulsifier, hingga daging sapi sintetis.
“Aneh kan? Ini sebentar lagi kita akan menghasilkan daging sapi dari tandan kosong sawit. Bukan sapinya dikasih tankos-tankos itu sudah biasa. Tapi dari tandan kosongnya dengan inovasi bioteknologi yang kita miliki itu bisa menghasilkan daging sapi sesuai dengan kualitas yang kita inginkan. Mau sedikit lemak boleh, mau sedikit protein juga bisa,” ujar dia.
Riset saat ini sudah berada di level tersebut. Hanya saja tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah riset ini menjadi inovasi yang bisa diterapkan secara nyata di industri.
“Sudah di level itu kita di dalam riset. Tinggal bagaimana merubah riset itu menjadi inovasi sehingga bermanfaat bagi pelaksanaan aktif yang sedang menuju ke depan,” pungkas dia.






























