Dunia Kekurangan Urea, Pupuk Indonesia Ungkap Posisi Strategis RI

0
Stok pupuk urea
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menyatakan, sejumlah negara tetangga menyatakan tertarik untuk mengimpor urea Indonesia. Dok: Pupuk Indonesia

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi memastikan pasokan pupuk nasional tetap aman meski terjadi gejolak geopolitik global, termasuk gangguan distribusi di kawasan Timur Tengah.

Rahmad menjelaskan, posisi Indonesia relatif lebih kuat karena merupakan negara eksportir urea. Menurutnya,  gangguan di kawasan Selat Hormuz telah menghilangkan sekitar 10 juta ton kapasitas pasokan urea global per tahun dari pasar.

“Pupuk Indonesia tuh mengekspor antara 1,5 juta sampai 2 juta ton. Jadi, posisi kita untuk pupuk akibat dari geopolitik ini semuanya aman,” ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (30/3).

Sementara itu, untuk pupuk jenis NPK yang masih bergantung pada impor bahan baku seperti fosfor dan kalium, Rahmad memastikan pasokannya aman karena tidak melalui jalur distribusi yang terdampak konflik.

“Aman, aman. Karena kan nggak ngelewati Selat Hormuz,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui terjadi kenaikan biaya logistik global. Namun, kondisi tersebut dinilai berdampak merata ke seluruh komoditas sehingga tidak mengganggu stabilitas pasokan pupuk dalam negeri.

Lebih jauh, ia menilai situasi global saat ini justru membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih besar dalam menjaga ketahanan pangan dunia. Pasalnya, banyak negara mengalami kekurangan pasokan urea akibat terganggunya produksi di Timur Tengah.

Sejumlah negara seperti India, Australia, hingga kawasan Asia Pasifik, sambungnya,  mulai mendatangi Indonesia karena melihat posisi strategis Indonesia di tengah gejolak global.

“Tapi yang ingin saya jelaskan di posisi geopolitik dinamika sekarang ini Indonesia malah bisa menjadi salah satu penyelamat ekosistem pangan dunia. Kenapa? Karena dunia sedang kehilangan suplai urea dan Indonesia adalah negara eksportir urea,” ujarnya.

Kendati peluangnya besar, ia menegaskan Indonesia tidak dapat sepenuhnya menggantikan pasokan global yang hilang, karena ekspor tetap dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

Rahmad menyebut, produksi urea nasional mencapai sekitar 9,4 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,5 hingga 2 juta ton dialokasikan untuk ekspor, tergantung kebutuhan dalam negeri.

“Kalau kebutuhan dalam negeri lagi tinggi satu setengah juta ton kita ekspor, kalau lagi turun kita bisa ekspor sampai dua juta ton,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama ini sejumlah negara besar seperti India, Australia, hingga Amerika Serikat banyak mengandalkan pasokan urea dari kawasan Timur Tengah.

Namun, terganggunya pasokan dari wilayah tersebut bertepatan dengan meningkatnya kebutuhan global, seiring musim tanam yang tengah berlangsung di berbagai negara.

“Sekarang ini musim tanam di India, Asia Selatan, Australia, hingga Amerika. Jadi kebutuhan dunia memang sedang tinggi,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berkontribusi lebih besar dalam menjaga ketahanan pangan global.

“Mudah-mudahan Indonesia bisa ikut berkontribusi menyelamatkan pangan dunia,” kata Rahmad.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini