Majalah HORTUS Archipelago Edisi April 2026

0

Pembaca sekalian,
Kabar cukup melegakan ini berembus dari Kantor Kementerian Pertanian (Kementan) Jakarta. Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman akan bertekad sekaligus berupaya keras untuk mempercepat terwujudnya swasembada gula nasional (gula konsumsi) pada tahun ini. Untuk itu, instansi tersebut akan mendistribusikan 5,9 miliar mata benih tebu pada 2026 untuk pengembangan areal tanam seluas 99.547 hektare yang tersebar di 10 provinsi dan 74 kabupaten.

Patut dipahami bahwa langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam meningkatkan produksi gula nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Melalui intervensi di sektor hulu, pemerintah berharap produktivitas dan rendemen tebu dapat meningkat secara signifikan.

Menurut Amran penguatan komoditas tebu merupakan salah satu prioritas utama dalam kebijakan pembangunan pertanian. Kata dia, swasembada gula tidak dapat dicapai tanpa pembenahan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Kami melakukan pembenahan dari hulu hingga hilir, mulai dari benih, pola tanam, sistem hilirisasi, hingga aspek pemasaran. Tujuannya sederhana, pekebun harus mendapatkan keuntungan,” begitulah penegasan Mentan, belum lama ini.

Pembaca yang budiman,

Upaya keras yang dilakukan Mentan dan jajarannya tersebut, kami kupas dalam Rubrik Liputan Khusus Majalah HORTUS Archipelago Edisi April 2026 ini.

Bagi Amran, ketersediaan benih unggul menjadi titik awal penting dalam meningkatkan produktivitas. Tanpa benih berkualitas, berbagai upaya lain di tingkat budidaya maupun pengolahan tidak akan memberikan hasil optimal.

Program penyaluran benih dalam skala besar ini juga diarahkan untuk memperluas areal tanam tebu rakyat. Dengan cakupan hampir 100 ribu hektare, pemerintah berharap dapat mempercepat peningkatan produksi secara nasional dalam waktu relatif singkat.

Amran menargetkan produksi gula nasional dapat mencapai sekitar 3 juta ton pada 2026. Target ini dinilai realistis jika didukung oleh peningkatan luas tanam, perbaikan teknik budidaya, serta penguatan industri pengolahan. “Dengan perluasan dan optimalisasi lahan, kita optimistis produksi gula nasional bisa meningkat dan mendukung kemandirian pangan,” ujarnya menekankan.

Adapun untuk mengisi Rubrik Laporan Utama, kami telah menyiapkan tulisan yang tak kalah atraktifnya.  Yakni, konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika, Israel dan Iran, yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, akan menjadi ancaman serius bagi perdagangan sawit  global.

Salah satu titik krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi energi global. Berkisar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melewati selat tersebut. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan dan juga bakal berimbas pada kenaikan biaya perdagangan sawit global.

Pembaca sekalian yang kami hormati,

Di luar kedua rubrik andalan tersebut, kami juga telah menyiapkan berita/tulisan lain yang tak kalah hangat dan menariknya.

Akhirnya dari balik meja redaksi, kami ucapkan selamat menikmati sajian kami ***

Baca/download:

https://drive.google.com/file/d/1ffRi6RAV4tBq-RkWoGDym6NvQG0psnuT/view?usp=sharing

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini