Wamentan Sudaryono Pastikan Banjir di Sumatra Tak Ganggu Produksi Padi

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (10/12).

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyatakan bahwa banjir yang melanda lahan sawah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak akan memengaruhi produksi padi nasional.

Hal tersebut disampaikan Wamentan Sudaryono saat ditemui pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (10/12).

Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa dampak banjir terhadap produksi relatif kecil jika dibandingkan dengan total lahan baku sawah nasional seluas 7,3 juta hektare.

“Jadi kalau ada orang nanya, ‘Pak ini gimana dengan kondisi bencana banjir ini terhadap capaian produksi?’ Kecil ya, maksud saya kalau kita bandingkan dengan luasan lahan baku sawah kita yang 7,3 juta, katakanlah 40.000 gitu ya, kecil,” ujar Wamentan Sudaryono.

“Jadi nggak, nggak terlalu signifikan untuk mempengaruhi produksi,” sambung dia.

Menurut dia,  pendataan terus dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan akibat banjir di tiga provinsi tersebut. Dari laporan sementara, total lahan terdampak mencapai sekitar 40.000 hektare, namun tidak seluruhnya mengalami puso.

“Terdampak itu tidak selalu berarti gagal panen. Kadang hanya karena akses jalan putus atau lahan tergenang sebentar, tapi masih bisa dipanen,” jelas dia.

Adapun lahan yang mengalami puso atau gagal panen tercatat sekitar 4.500 hingga 5.000 hektare. Angka ini, kata dia, terus diverifikasi oleh penyuluh pertanian dan dinas pertanian setempat.

Dia menegaskan bahwa pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto saat meninjau kondisi Jembatan Bailey Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (7/12).

“Petani tidak boleh khawatir nanti benih, alat mesin pertanian, bahkan KUR kalau ada pinjaman dan lain-lain kan Presiden ingin meng-cover itu semua,” kata dia.

Sudaryono menambahkan bahwa lahan puso menjadi prioritas utama penanganan karena petani berada pada tahap menjelang panen namun harus mengalami gagal panen.

“Yang puso itu saya kira paling prioritas karena orang sudah mau panen, gagal panen. Puso itu yang harus kita antisipasi,” imbuh dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini