Jalan Panjang INSTIPER Menjaga Relevansi di Tengah Badai Perubahan

0

Yogyakarta — Pada siang yang cerah di Gedung Grha INSTIPER, suasana Dies Natalis ke-67 berlangsung lebih serius daripada biasanya. Para undangan duduk rapi di bawah tenda besar, dari pejabat kementerian, industri perkebunan, hingga para akademisi senior yang menjadi saksi perjalanan panjang kampus itu.

Di tengah acara, seorang tokoh yang jarang tampil dengan nada keras tetapi selalu membawa analisis tajam naik ke podium: Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta

Ia membuka pidatonya dengan memuji usia INSTIPER yang telah mencapai 67 tahun, usia yang bagi sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dianggap matang dan tahan uji. “Namun usia bukan sekadar angka,” katanya. “Usia adalah ujian: apakah sebuah institusi mampu beradaptasi atau dibiarkan membatu.” Kalimat itu membuat beberapa hadirin mengangguk kecil, seolah memahami arah pesan yang akan disampaikannya.

Prof. Setyabudi kemudian mengingatkan bahwa INSTIPER lahir dari pergolakan nasionalisasi pada 1958, di saat negara membutuhkan kader perkebunan. “Sejak awal, kampus ini dibangun untuk menjawab kebutuhan konkret bangsa,” ujarnya. “Dan pola itu seharusnya terus berlanjut.”

Namun, ia segera menggeser bahasan dari masa lalu ke lanskap baru yang jauh lebih ganas. Menurutnya, perguruan tinggi hari ini menghadapi badai perubahan tiga lapis: disrupsi teknologi, tekanan finansial, dan pergeseran orientasi pendidikan dari penguasaan teori ke outcome nyata. “PTS, termasuk INSTIPER, tidak bisa berlari dengan kecepatan kemarin,” ujar Setyabudi. “Ini era yang menghargai yang cepat, tepat, dan relevan.”

Di hadapan ratusan hadirin, ia mengurai tantangan secara gamblang. Pertama, ketahanan finansial. Dalam bahasa lugasnya, ia menyebut bahwa PTS tak bisa hidup hanya dari UKT. “Kampus harus punya kaki finansial sendiri. Tidak lagi satu kaki, tetapi empat kaki,” katanya. Ia mencontohkan peluang komersialisasi riset, pelatihan profesional, kerja sama industri, hingga unit bisnis berbasis teknologi. “Institusi yang hanya bertumpu pada UKT ibarat rumah dengan pondasi tunggal—goyang sedikit bisa roboh.”

Kedua, pendidikan berbasis outcome. Ia menegaskan bahwa pemerintah melalui Renstra Kemdiktisaintek 2025–2029 dan Indikator Kinerja Utama (IKU) kini mengukur kualitas kampus bukan dari jumlah perkuliahan, tetapi dampaknya. “Serapan kerja, kualitas magang, publikasi yang berguna bagi industri—itu ukurannya,” ujarnya. Dunia perkebunan yang menjadi habitat INSTIPER kini telah berubah: drone, kecerdasan buatan, dan digital mapping menjadi standar baru. “Kalau kampus masih mengajar seperti 20 tahun lalu, ia akan ditinggalkan industrinya sendiri.”

Ketiga, adaptasi digital. Ia menyoroti kesenjangan antara kecepatan industri dalam mengadopsi teknologi dan kecepatan kampus dalam memperbarui kurikulum. “Agriculture 5.0 bukan masa depan. Itu hari ini,” tegasnya.

Setelah memetakan tantangan, Prof. Setyabudi merinci arah baru yang ia sebut sebagai Empat Pilar Strategis bagi keberlanjutan INSTIPER.

Pilar pertama adalah kemandirian finansial dan tata kelola adaptif. Ia kembali menekankan pentingnya mendiversifikasi pendapatan kampus. “Saya paham INSTIPER punya modal kuat: jaringan industri, alumni, laboratorium perkebunan. Gunakan itu untuk memperluas kaki finansial.”

Pilar kedua adalah akselerasi talenta dan keunggulan akademik. Dengan nada optimistis, ia menyebut INSTIPER sebagai pelopor Minat Studi Perkebunan Kelapa Sawit sejak 2005—jauh sebelum isu sawit menjadi perhatian nasional. “INSTIPER sudah benar sejak awal,” katanya. Maka ia mendorong kampus untuk memperkuat program seperti New INSTIPER with Advance Technology (NIWAT) yang mengintegrasikan digital agriculture, data analytics, hingga kewirausahaan.

Pilar ketiga menyangkut riset dan inovasi yang berdampak. Ia menyebut riset yang hanya berhenti di jurnal sebagai “kemewahan masa lalu.” Kampus harus menghasilkan intellectual property yang dapat dipasarkan, terutama pada isu keberlanjutan, produktivitas hulu-hilir, dan teknologi lapangan yang dibutuhkan perusahaan perkebunan. “Ini bukan lagi soal publikasi, tetapi solusi.”

Pilar keempat adalah diferensiasi dan identitas kelembagaan. Setyabudi menekankan bahwa INSTIPER tidak perlu menjadi kampus serba mampu. “Kampus ini kuat karena spesialis. Jangan lepaskan itu. Di Asia Tenggara, tidak banyak kampus yang punya positioning kuat dalam perkebunan.”

Prof. Setyabudi membawa contoh yang jarang terdengar dalam forum kampus perkebunan: Harvard University. Ia meminta hadirin tidak terjebak pada perbandingan skala, tetapi mempelajari prinsip dasarnya—ketangguhan jangka panjang, pendanaan berlapis, dan visi lintas-generasi. “Perguruan tinggi yang besar bukan karena bangunan atau luas tanahnya, tetapi karena visinya panjang,” katanya. Ia lalu menyinggung perlunya INSTIPER mulai membangun dana abadi, meski kecil, “karena marathon selalu dimulai dari langkah pertama.”

Ketika pidatonya memasuki isu paling aktual, yaitu implementasi IKU, ia secara terbuka mengakui tantangan besar yang menghadang PTS. Banyak kampus swasta masih berjuang melengkapi laboratorium modern, mendapatkan dosen berkualifikasi doktor, hingga memenuhi standar riset global. “Saya tahu betul beratnya,” ujar Setyabudi. “Tapi negara membutuhkan PTS untuk memperluas akses pendidikan. Karena itu PTS tidak boleh berjalan sendiri.”

Ia meminta INSTIPER memperkuat kolaborasi dengan industri strategis, kementerian teknis, dan lembaga riset internasional. Ia menyebut keberhasilan kampus menggelar forum-forum global seperti Wood and Biofiber International Conference (WOBIC), kerja sama INDOCACO dengan CIRAD Prancis, serta pelatihan digital UMKM sawit bersama APKASINDO dan BPDPKS. “Itu bukti INSTIPER bisa bermain di arena internasional,” katanya.

Sebelum menutup pidatonya, ia kembali menegaskan bahwa semua transformasi—finansial, akademik, digital—hanya mungkin terjadi jika kampus menjaga integritas tata kelola. “Institusi bisa maju hanya jika fondasinya bersih dan akuntabel,” ujarnya.

Lalu ia menyampaikan selamat ulang tahun untuk INSTIPER dengan nada yang lebih hangat. “Selamat Dies Natalis ke-67. Semoga INSTIPER terus menjadi kampus perjuangan para planters sejati.”

Tepuk tangan mengalun panjang. Para undangan berdiri, sebagian berbicara pelan tentang arah baru kampus yang selama puluhan tahun menjadi rujukan industri perkebunan. Ada kesadaran tumbuh di ruangan itu: bahwa INSTIPER tengah memasuki babak baru. Sebuah fase yang menuntut keberanian membongkar pola lama demi memastikan kampus tetap relevan.

Dalam usia 67 tahun, INSTIPER kembali berada di persimpangan sejarah—sebuah posisi yang pernah ditempatinya enam dekade lalu saat lahir dari semangat nasionalisasi. Bedanya, kini tantangannya bukan lagi geopolitik, melainkan kecepatan dunia yang terus berubah. Dan seperti dulu, kampus ini kembali ditantang untuk memilih: menjadi pelopor, atau menjadi penonton.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini