Makassar – Produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat kini tidak hanya menghadapi persoalan teknis di lapangan, tetapi juga tantangan yang semakin kompleks. Mulai dari tanaman yang telah memasuki usia tua, praktik pemupukan yang belum tepat, tekanan perubahan iklim, hingga tuntutan penerapan budidaya berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi.
Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun dinilai menjadi salah satu kunci agar perkebunan sawit rakyat mampu bertahan sekaligus meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi semangat utama dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY). Sebanyak 59 peserta yang terdiri atas mayoritas pekebun, penyuluh, dan aparatur pendamping dari Kabupaten Luwu Utara (Lutra) mengikuti dua kelas pelatihan selama enam hari, 24-30 Juli 2026, di Makassar.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan tantangan yang dihadapi perkebunan sawit saat ini tidak lagi sederhana. Selain masih ditemui pengelolaan kebun yang belum optimal, banyak kebun rakyat yang sudah memasuki usia tua namun belum diremajakan karena berbagai pertimbangan.
“Masih banyak tanaman yang sebenarnya sudah saatnya diremajakan, tetapi belum dilakukan karena dianggap masih menghasilkan. Padahal produktivitasnya sudah menurun. Setelah replanting pun pekebun harus mampu memilih benih unggul yang benar agar investasi jangka panjang tidak salah arah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti praktik pemupukan yang masih perlu diperbaiki. Menurutnya, penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik dapat menurunkan kesehatan tanah dan berdampak terhadap produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
Sebab itu, materi pelatihan tidak hanya membahas teknik budidaya dasar, tetapi juga pengelolaan tanah, pemupukan berimbang, polinasi, hingga praktik lapangan yang dapat langsung diterapkan peserta di kebun masing-masing.
Di sisi lain, perubahan iklim turut menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi. Perubahan pola cuaca berpotensi meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman serta memengaruhi produktivitas kebun apabila tidak diimbangi dengan strategi budidaya yang adaptif.
“Keberhasilan sawit di masa depan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau banyaknya pupuk yang diberikan, tetapi oleh SDM yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, termasuk perkembangan teknologi dan tantangan iklim,” kata Idum.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menilai peningkatan kapasitas pekebun harus diikuti dengan perubahan cara pengelolaan kebun.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Nurul Fitriani Alimuddin, mengungkapkan bahwa berbagai persoalan di lapangan, termasuk rendahnya rendemen tandan buah segar (TBS), masih menjadi tantangan bagi sawit rakyat di Luwu Utara.
Berdasarkan hasil evaluasi pemerintah bersama berbagai pihak, rendemen sawit rakyat di wilayah tersebut masih berada di kisaran 17 persen atau di bawah potensi optimal. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kualitas tanaman dan praktik budidaya yang masih perlu diperbaiki.
“Yang paling harus kita ubah adalah mindset petani. Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam cara berkebun sehingga kualitas hasil panen meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara, Pasalongan, menyebut pelatihan menjadi bagian dari upaya mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi petani sawit di daerahnya.
Selain persoalan harga TBS, ia berharap materi budidaya mampu membantu petani memilih varietas unggul, meningkatkan kualitas kebun, serta memperkuat kemampuan pekebun dalam menghadapi tantangan produksi di masa mendatang.
“Kami berharap pelatihan ini menjadi jalan keluar dari berbagai problematika sawit yang kami hadapi. Ilmu yang diperoleh peserta harus benar-benar diterapkan sehingga memberikan dampak terhadap produktivitas dan kesejahteraan petani,” katanya.
Melalui pelatihan ini, BPDP, Ditjen Perkebunan, dan AKPY tidak hanya mentransfer pengetahuan teknis, tetapi juga membangun kesiapan pekebun menghadapi perubahan yang terus berkembang. Dengan kapasitas SDM yang semakin baik, pekebun diharapkan mampu mengelola kebun secara lebih efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, serta menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dan berkelanjutan.






























