Mentan Amran Ancam Hentikan Ekspor CPO ke Negara Ini

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman. Dok: Ist

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, Indonesia memiliki kendali besar atas pasar minyak sawit dunia dan siap menghentikan ekspor minyak sawit (CPO) ke negara mana pun yang dinilai “usil” terhadap sawit nasional.

Amran menyebut, produksi CPO Indonesia mencapai 46 juta ton per tahun, di mana 26 juta ton diekspor dan 20 juta ton dimanfaatkan di dalam negeri.

“CPO kita ekspor 26 juta ton. Kita gunakan di dalam negeri 20 juta ton. Pengendali dunia adalah Indonesia,” kata Amran pada acara HIPMI-Danantara Indonesia Business Forum 2025, Jakarta, Senin (20/10).

Amran mencatat, ekspor CPO Indonesia paling banyak ke India yaitu sebesar 4,99 juta ton dengan nilai ekspor mencapai US$5,32 miliar. Posisi berikutnya ditempati China dengan volume 3,83 juta ton senilai US$3,99 miliar, lalu Pakistan sebanyak 2,80 juta ton dengan nilai US$3,13 miliar.

Di urutan keempat ada Uni Eropa yang menyerap 2,33 juta ton senilai US$ 2,65 miliar, dan kelima Amerika Serikat dengan volume 1,78 juta ton serta nilai ekspor US$2,22 miliar.

Dengan posisi Indonesia sebagai pengendali utama pasokan CPO dunia, Amran menegaskan bahwa pemerintah memiliki kekuatan untuk menentukan arah perdagangan komoditas tersebut.

“Ini hitungannya. Kita tinggal memilih mana negara yang paling usil, kita kunci, hentikan ekspor CPO ke sana,” ujar Amran.

Amran menuturkan, dalam pertemuan bilateral dengan sejumlah negara, ada yang memprotes soal kerusakan lingkungan dan deforestasi. Dia pun menanggapinya dengan santai namun penuh keyakinan.

“Kami ketemu beberapa bilateral negara. Memprotes kerusakan lingkungan dan seterusnya, aku katakan ‘nggak usah, sabar aja, nanti kami setop ekspor 2026 untuk B50, kami setop ekspor ke negara bapak’. Dia bingung. Bahan bakunya habis nantinya,” kata dia.

Amran menuturkan, ke depan pemerintah akan mulai mengalihkan sebagian ekspor untuk kebutuhan dalam negeri, terutama dalam program pengembangan biodiesel.

Amran menyebut, langkah tersebut sejalan dengan visi besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

“Ini ekspor kita, nanti kita setop impor (solar) dengan Pak Bahlil, luar biasa. Kita setop (impor solar). CPO Ini kita jadikan solar B50, kita bisa,” tegas Amran.

Dia pun menyinggung pengalaman saat pemerintah menahan ekspor CPO ketika minyak goreng langka di dalam negeri.

“Kita pernah setop ekspor saat minyak goreng langka. Negara kita memang unik sedikit, kita produsen migor terbesar dunia, tapi minyak goreng langka di Indonesia. Nah, itulah Indonesia,” tutur Amran.

Amran menegaskan, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa dunia sangat bergantung pada Indonesia dalam pasokan minyak nabati.

“Pada saat kita setop ekspor, CPO naik 100 persen, nilai ekspornya Rp 450 triliun. Artinya kalau kita hentikan 5 juta ton ini bisa naik dua kali lipat, yaitu Rp 1.500 triliun,” pungkas dia.

(Supianto)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini