Kementan Berencana Tambah 15 Pabrik Gula hingga 2024

0
pabrik gula baru
Ilustrasi

Kementerian Pertanian berencana menambah 15 pabrik gula baru pada periode 2020-2024 untuk memenuhi kebutuhan gula industri sebanyak 3,2 juta ton dengan luas lahan tebu mencapai sekitar 535.000 hektar (ha).

Luasan tersebut, ungkap Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, baru-baru ini, di Jakarta, akan terdiri dari 271.361 ha lahan kebun tebu di luar Jawa dan 263.571 ha lahan di Pulau Jawa.

Menurutnya, kebijakan ini seiring dengan aturan pemerintah yang mewajiban untuk memiliki kebun bagi pabrik-pabrik gula di dalam negeri, baik pabrik gula rafinasi maupun pabrik penghasil gula kristal putih.

“Artinya, kita mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi serta gula industri. Saya sangat optimis bahwa swasembada gula sudah di depan mata. [Luasan lahan per pabrik] sesuai TCD [ton cane per day/kapasitas]-nya. Kalau TCD 10.000, harus punya kebun 20.000 [ha], kira-kira begitu,” urainya.

Target investasi pabrik gula baru ini merupakan bagian dari rencana jangka menengah Kementan untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Pemerintah juga menargetkan penambahan luasan lahan perkebunan gula dalam negeri mencapai sekitar 535.000 hektar (ha) seiring beroperasinya 10 pabrik gula baru dengan kewajiban memiliki lahan tebu.

Areal tersebut mencakup 271.361 ha lahan kebun tebu di luar Jawa dan 263.571 ha lahan di Pulau Jawa. Adapun untuk luasannya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat areal tebu pada 2017 seluas 420.150 ha.

“Saat ini sudah ada 10 investor yang sudah membangun pabrik gula, tujuh di antaranya sudah beroperasi. Dua pabrik lagi akan beroperasi pada Desember 2019 dan satu pabrik lagi akan beroperasi pada Desember 2020. Nantinya, pabrik gula tersebut akan memenuhi kebutuhan gula konsumsi di tanah air dan menekan impor,“ kata Kasdi.

Adapun dari 10 pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2019, investasinya mencapai Rp43,82 triliun dengan potensi serapan tenaga kerja sebanyak 2 juta orang.

“Peningkatan produksi ini juga bagian dari yang diharapkan Bapak Presiden Joko Widodo sesuai amanat Nawacita. Yang jelas, kemampuan produksi dalam negeri harus meningkat dari jumlah awal yang hanya 2,5 juta ton menjadi berlipat-lipat,” katanya lagi.

Kasdi menambahkan, jika 10 pabrik gula tersebut beroperasi, kapasitas produksinya minimal 100.000 ton cane per day (TCD) dengan target tambahan areal tebu inti seluas 94.100 ha dan plasma seluas 103.900 ha.

Dari 10 pabrik gula tersebut, Kasdi menyebutkan potensi produktivitas tebu rata-rata bisa mencapai 92,5 ton per ha dengan produktivitas gula mencapai 8,14 ton per ha. Adapun potensi rendemen rata-rata tebu yang diolah 10 pabrik gula tersebut diperkirakan sebesar 8,7 persen.

Selain membangun pabrik gula baru, pemerintah juga menargetkan perluasan perkebunan tebu Indonesia mencapai 735.000 hektar (ha) pada 2029.

Dengan luasan tersebut, Indonesia diprediksi bisa mewujudkan swasembada gula pada 2029. Pasalnya, dengan lahan perkebunan tebu seluas 735.000 ton, Indonesia diprediksi mampu memproduksi hingga 5,9 juta ton gula per tahun.

Sementara kebutuhan gula dalam negeri saat itu diprediksi hanya mencapai 5,8 juta ton per tahun.

Kasdi menjelaskan, perluasan lahan perkebunan tebu ini akan difokuskan pada area di luar Jawa. “Kita mau memperluas plasma seluas-luasnya di luar Jawa karena kalau memperluas di Jawa kan agak sulit, bukan berarti kalau di Jawa tidak boleh,” katanya.

Dikatakan, perluasan lahan tebu di luar Pulau Jawa sebenarnya telah terjadi dalam lima tahun terakhir. Kementerian Pertanian mencatat dalam kurun waktu 2011-2013, luasan kebun tebu di luar Pulau Jawa mencapai 169.536 ha. Adapun pada saat ini, luasnya telah mencapai 201.178 ha.

Hal sebaliknya terjadi di Pulau Jawa yang luas lahan perkebunan tebunya justru menyusut dari semula sekitar 287.000 ha menjadi 251.020 ha.

AGRI Siap Bangun Kebun Tebu
Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menyatakan siap memenuhi ketentuan pemerintah terkait pengembangan kebun tebu. Ketua AGRI Rachmat Hariotomo mengatakan saat ini, sebagian pabrik produsen gula rafinasi yang tergabung dalam AGRI telah melaksanakan pembangunan pabrik dan kebun.

Namun, diakuinya, upaya pengembangan kebun oleh masing-masing pabrik gula rafinasi masih belum menyeluruh. Hal ini lantaran persoalan kebutuhan lahan. Pasalnya, sebagian besar pabrik gula rafinasi saat ini berlokasi di Provinsi Banten karena tingginya keperluan mendatangkan bahan baku dari luar negeri.

“Lahan yang tersedia itu kan kebanyakan dialokasikan arealnya kurang mendukung,” jelasnya.

Menurutnya, pertanaman tebu memerlukan kondisi lahan spesifik. Selain itu, untuk pengembangan perkebunan tebu yang terintegrasi dengan pabrik, khususnya di luar Jawa, setiap perusahaan membutuhkan lahan dengan luasan sedikitnya 15.000 hektar (ha).

Sekitar 50 ha dari total lahan seluas 15.000 hektar ini akan dimanfaatkan untuk pembangunan pabrik gula kristal putih (GKP) dengan kapasitas produksi mencapai 8.500-10.000 ton TCD. Adapun sisa lahan akan dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya tebu guna memasok kebutuhan pabriknya.

Selain kebutuhan lahan dengan kondisi spesifik, upaya pencarian lahan kerap kali menghadapi kendala berupa keberterimaan masyarakat di sekitar area yang hendak dikembangkan.

Untuk itu, pihaknya pun meminta agar pemerintah bisa membantu mengakomodasi pengadaan lahan sehingga kewajiban untuk mengembangkan perkebunan oleh pabrik gula rafinasi bisa terealisasi. ***SH, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini