BPDP, Ditjenbun, dan PT Koompasia Selenggarakan Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Berstandar Tinggi, 90 Pekebun Aceh Singkil Siap Tingkatkan Produktivitas

0

Medan, 27 Juli 2026 – Sebanyak 90 pekebun kelapa sawit swadaya dan pendamping pekebun asal Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, berhasil menyelesaikan Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan pada 20–25 Juli 2026 di Hotel AIHO Medan.

Kegiatan yang berlangsung selama enam hari ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM-PKS) Tahun 2026 yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan dilaksanakan oleh PT Koompasia Enviro Institute (KEI).

Pelatihan yang diikuti 90 peserta tersebut dibagi ke dalam tiga angkatan, yaitu Angkatan IV, V, dan VI. Program ini dirancang dengan standar penyelenggaraan yang tinggi melalui kurikulum berbasis kompetensi, tenaga pengajar berpengalaman, metode pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik lapangan, evaluasi pembelajaran, serta rencana pendampingan pascapelatihan.

Pendekatan tersebut bertujuan memastikan setiap peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengimplementasikan teknik budidaya kelapa sawit yang baik dan benar di kebun masing-masing.

Pelatihan secara resmi dibuka oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh  yang diwakili oleh  Mukhlis, S.P., M.A. selaku kepala bidang PPSDMPP . Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu faktor utama dalam mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat.

Menurut Mukhlis, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan transfer pengetahuan, melainkan investasi jangka panjang untuk mencetak pekebun yang profesional, mandiri, dan mampu menerapkan praktik budidaya sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan keberlanjutan.

“Kami berharap seluruh peserta mengikuti setiap tahapan pelatihan dengan sungguh-sungguh dan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing. Lebih dari itu, peserta juga diharapkan menjadi agen perubahan yang dapat membagikan pengetahuan kepada pekebun lainnya sehingga manfaat program ini dapat dirasakan lebih luas,” ujar Mukhlis.

Direktur PT Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan sektor kelapa sawit sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kompetensi teknis dan pola pikir pekebun agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

“Kami meyakini bahwa peningkatan produktivitas kebun harus dimulai dari peningkatan kompetensi pekebunnya. Karena itu, pelatihan ini disusun dengan standar yang tinggi, mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, metode pembelajaran yang aplikatif, trainer yang berpengalaman, praktik lapangan, hingga pendampingan pascapelatihan. Harapannya, ilmu yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan sehingga memberikan dampak nyata terhadap produktivitas dan kesejahteraan pekebun,” ujar Henry.

Apresiasi juga disampaikan oleh Plt. Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Singkil, Nirwana Angkat, S.P., yang menyampaikan terima kasih kepada BPDP, Ditjenbun, dan PT Koompasia Enviro Institute atas kesempatan yang diberikan kepada para pekebun di daerahnya.

Selama enam hari pelatihan, peserta memperoleh materi yang disusun secara komprehensif, meliputi regulasi dan kebijakan perkebunan, penggunaan benih unggul bersertifikat, teknik pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, konservasi tanah dan air, pengendalian hama, penyakit, dan gulma, hingga teknik panen yang benar sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP).

Master Trainer PT Koompasia Enviro Institute, Sandi Muklis Efendi Siregar, menjelaskan bahwa seluruh materi dirancang mengikuti kebutuhan nyata yang dihadapi pekebun di lapangan. Setiap sesi pembelajaran mengedepankan pendekatan partisipatif melalui diskusi, studi kasus, simulasi, dan praktik sehingga peserta mampu memahami alasan di balik setiap rekomendasi teknis.

“Pelatihan ini kami susun agar peserta tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami mengapa teknik tersebut harus diterapkan. Dengan demikian, setiap keputusan yang diambil dalam pengelolaan kebun memiliki dasar teknis yang benar dan dapat meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Keberhasilan pelatihan bukan diukur dari selesainya kegiatan, melainkan dari sejauh mana ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di lapangan,” jelas Sandi Muklis Efendi Siregar.

Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik, peserta juga mengikuti field trip ke Verdant Bioscience PT Timbang Deli Indonesia di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Di lokasi tersebut, peserta mengamati secara langsung penerapan teknik budidaya pada areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM), serta sistem pengelolaan pembenihan. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk membandingkan teori yang diperoleh di kelas dengan praktik terbaik yang diterapkan di perusahaan.

Selain meningkatkan kompetensi teknis, pelatihan juga menjadi ruang kolaborasi bagi pekebun dan pendamping pekebun untuk saling bertukar pengalaman, mendiskusikan berbagai tantangan di lapangan, serta membangun jejaring kerja sama dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat.

Salah seorang peserta, Rasidin Kombih, mengaku pelatihan tersebut memberikan banyak wawasan baru yang dapat langsung diterapkan di kebunnya.

“Selama mengikuti pelatihan ini saya memahami bahwa peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada pemupukan, tetapi dimulai dari penggunaan benih unggul, pemeliharaan tanaman yang benar, hingga pengendalian hama dan penyakit secara tepat. Materi yang diberikan sangat mudah dipahami karena disertai contoh dan praktik langsung di lapangan. Ilmu yang kami peroleh akan kami terapkan di kebun dan kami bagikan kepada pekebun lain di Aceh Singkil,” ungkap Rasidin.

Sebagai tindak lanjut pascapelatihan, seluruh peserta menyatakan komitmennya untuk mengimplementasikan teknik budidaya kelapa sawit yang baik dan benar sesuai materi yang telah diperoleh selama pelatihan. Komitmen tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan produktivitas kebun sekaligus memperkuat penerapan praktik budidaya kelapa sawit berkelanjutan di tingkat pekebun swadaya.

Untuk memastikan penerapan hasil pelatihan berjalan secara efektif, PT Koompasia Enviro Institute akan melaksanakan program monitoring dan pendampingan di lokasi peserta. Program ini bertujuan memantau tingkat adopsi teknologi budidaya, mengevaluasi efektivitas pelatihan terhadap peningkatan produktivitas kebun, serta memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan sehingga setiap kendala yang dihadapi pekebun dapat segera diidentifikasi dan diberikan solusi yang tepat.

Melalui penyelenggaraan pelatihan yang berstandar tinggi, didukung oleh kurikulum berbasis kompetensi, tenaga pengajar profesional, pembelajaran berbasis praktik, serta pendampingan pascapelatihan, BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan PT Koompasia Enviro Institute berharap dapat melahirkan pekebun kelapa sawit yang lebih kompeten, produktif, dan berdaya saing. Dengan demikian, manfaat Program SDM-PKS tidak hanya dirasakan oleh 90 peserta pelatihan, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas, kesejahteraan pekebun, dan pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat yang berkelanjutan di Kabupaten Aceh Singkil.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini