AEKI: Permintaan Kopi Indonesia Masih Tinggi, Pasokan Jadi Kendala

0
biji kopi siap panen
Biji kopi berwarna merah siap untuk dipanen. Dok: PTPN

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menyebut permintaan kopi Indonesia di pasar internasional masih cukup tinggi. Namun, industri kopi nasional belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut karena terkendala pasokan, sementara kinerja ekspor pada 2026 diperkirakan relatif sama atau sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor kopi Indonesia pada 2025 mencapai 508,8 ribu ton dengan nilai US$2,50 miliar. Capaian tersebut meningkat masing-masing 62,61 persen dan 54,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Departemen Specialty & Industri Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo mengatakan pasar ekspor kopi Indonesia sebenarnya masih terbuka lebar. Kendati demikian, kemampuan memenuhi permintaan masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha.

“Saat ini pasar yang sudah ada sebenarnya sudah cukup. Kita belum bisa memaksimalkan permintaan yang ada, masih ada permintaan yang belum bisa kita penuhi,” kata Moelyono kepada Agronesia.

Meski permintaan masih tinggi, menurut dia, kinerja ekspor kopi Indonesia pada 2026 diperkirakan tidak jauh berbeda dibandingkan 2025.

“Untuk kinerja ekspor kopi tahun 2026 kemungkinan sama atau sedikit lebih rendah dibanding tahun 2025, secara value dan volume-nya,” ujarnya.

Moelyono menjelaskan, tantangan utama industri kopi nasional saat ini adalah menjaga stabilitas pasokan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Perubahan iklim dan pemanasan global dinilai memberikan dampak besar terhadap produksi kopi nasional.

“Perubahan iklim saat ini, global warming sangat berpengaruh besar terhadap produksi maupun pasokan kopi di Indonesia. Kejadian La Niña dan El Niño pada 2022–2023 menyebabkan gangguan pasokan kopi yang cukup signifikan pada 2023–2024,” katanya.

Selain faktor cuaca, AEKI juga menilai peningkatan produksi kopi nasional masih lebih rendah dibandingkan kenaikan konsumsi kopi di dalam negeri. Kondisi tersebut turut memengaruhi ketersediaan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Meski demikian, Moelyono menilai kopi Indonesia masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global karena karakter dan cita rasa yang khas.

“Daya saing kopi Indonesia cukup bagus di luar negeri karena karakter dan ciri khas dari kopi Indonesia tidak tergantikan oleh kopi dari negara produsen lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, kenaikan harga kopi memberikan dampak yang berbeda bagi pelaku usaha dan petani. Menurut Moelyono, kenaikan harga membuat eksportir harus menyiapkan modal kerja yang lebih besar, sementara petani justru memperoleh manfaat dari meningkatnya harga jual kopi.

“Untuk kenaikan harga kopi tersebut, memberatkan eksportir karena modal kerja yang harus disediakan meningkat. Untuk petani, mereka diuntungkan sehingga terjadi kenaikan taraf hidup mereka juga,” katanya.

AEKI juga menyoroti berbagai regulasi baru yang dinilai menjadi tantangan, terutama bagi eksportir skala kecil dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Regulasi baru memberatkan eksportir kecil atau UMKM karena biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti aturan tersebut cukup tinggi,” ujar Moelyono.

Untuk memperkuat daya saing kopi Indonesia, AEKI menilai peningkatan produksi perlu diiringi dengan upaya menjaga konsistensi mutu kopi yang dihasilkan. Selain itu, pemerintah juga diharapkan terus memperkuat riset guna menghasilkan benih kopi unggul yang tahan terhadap penyakit, adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem, serta memiliki produktivitas tinggi.

Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Moelyono berharap target ekspor kopi Indonesia tetap dapat tercapai.

“Harapannya target ekspornya masih bisa tercapai,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini