Bulog Ungkap Penyebab Harga Beras Premium Naik

0
Dirut Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani
Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani. Dok: Ist

Perum Bulog mengungkapkan kenaikan harga beras premium dipengaruhi berkurangnya stok di sejumlah daerah seiring berakhirnya musim panen dan masuknya musim tanam kedua. Kondisi tersebut membuat cadangan pangan di berbagai wilayah mulai menipis sehingga memengaruhi pasokan di pasar.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, saat ini sebagian besar wilayah telah memasuki musim tanam kedua sehingga produksi hasil panen mulai berkurang.

“Kita ketahui bersama bahwa saat ini sudah pada musim tanam. Jadi, sehingga panen itu sudah mulai berangsur-angsur sudah mau habis, sehingga pola tanam sekarang sudah mulai masuk musim tanam kedua,” ujar Rizal dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Jakarta, Senin (27/7).

Menurut Rizal, Bulog telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas harga, salah satunya melalui operasi pasar sesuai arahan pemerintah. Pelaksanaan operasi pasar tersebut melibatkan TNI dan Polri guna memperluas jangkauan distribusi beras ke masyarakat.

Ia menyebut penyaluran beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus mengalami peningkatan. Bahkan, realisasi penyaluran sejak Maret hingga April telah melampaui target yang ditetapkan dengan capaian rata-rata di atas 130 persen.

“Dari bulan Maret sampai dengan April terlihat jelas bahwa penaikan penjualan SPHP juga meningkat dari target yang diberikan di tabel sebelah kanan, yang mana pencapaiannya rata-rata sudah di atas 130 persen. Ini menunjukkan effort yang positif,” ujar dia.

Namun berdasarkan hasil evaluasi Bulog bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian menunjukkan intervensi melalui operasi pasar belum mampu menekan kenaikan harga beras premium. Pasalnya, lonjakan harga terjadi pada beras premium, sedangkan harga beras medium relatif masih stabil.

“Memang ada sedikit miss kalau menurut kami, yang mana selama ini kembali ke layar coba kami jelaskan sedikit kepada peserta, yang mana ada kesalahan sedikit mungkin ya. Yang pertama adalah selama ini yang sering mengalami kenaikan adalah yang ada di sebelah kiri saya, yaitu beras premium,” ujar dia.

Rizal menjelaskan, selama ini pemerintah mengandalkan operasi pasar menggunakan beras medium untuk menekan harga beras premium. Namun, strategi tersebut dinilai belum efektif karena beras premium dan beras medium memiliki segmen pasar yang berbeda.

“Selama ini kami diperintahkan untuk melaksanakan operasi pasar untuk menurunkan harga beras premium juga. Namun, dengan intervensi beras medium untuk menurunkan beras premium ternyata tidak bisa untuk menurunkan dengan signifikan. Karena istilahnya dengan pasar ataupun segmen yang berbeda, yang mana premium tetap naik, yang medium kita gelontorkan sebanyak-banyaknya juga tidak akan menurunkan yang premium dalam hal ini,” ujar dia.

Sebagai langkah lanjutan, Bulog mengusulkan pengalihan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi beras premium yang akan digunakan untuk intervensi pasar.

“Oleh karena itu, saran sesuai dengan perintah Pak Mentan kemarin kepada kami ada suratnya resmi untuk mengalihkan cadangan beras premium yang kami miliki dari Bulog sejumlah 2 juta ton menjadi beras premium SPHP,” ujar dia.

Rizal mengatakan beras premium tersebut nantinya akan dipasarkan dengan nama “Beras Kita”, yang merupakan singkatan dari Beras Keluarga Indonesia Sejahtera. Selain mengganti identitas produk, Bulog juga menyiapkan kemasan baru yang lebih menarik agar lebih mudah dikenali masyarakat. Sementara beras SPHP medium akan berganti nama menjadi “Beras Kita Medium”.

Menurutnya, usulan pengalihan CBP tersebut akan segera dibahas dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Melalui skema baru itu, pemerintah berharap intervensi harga dapat lebih tepat sasaran karena dilakukan langsung pada segmen beras premium yang mengalami kenaikan harga.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini