Menteri Rachmat Pambudy Luncurkan Sekolah Kopi Nusantara di INSTIPER, Bidik Masa Depan Kopi Indonesia

0

YOGYAKARTA — Masa depan kopi Indonesia tidak hanya bergantung pada kebun dan produksi biji kopi. Di tengah tuntutan peningkatan mutu, hilirisasi, teknologi, dan nilai tambah, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu penentu daya saing industri kopi nasional.

Karena itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Prof. Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, MS., meluncurkan Sekolah Kopi Nusantara (SKN) di Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta, Sabtu, 5 September 2026. Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan kopi yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir.

Sekolah Kopi Nusantara dirancang bukan sekadar sebagai sekolah barista atau pusat pelatihan teknis. Program ini diproyeksikan menjadi rumah pengembangan sumber daya manusia kopi Indonesia, dengan pendidikan yang mencakup budidaya, pengolahan, mutu, roasting, brewing, barista, hingga bisnis dan rantai nilai kopi.

Rachmat mengatakan keberadaan Sekolah Kopi Nusantara menjadi ikhtiar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong nilai tambah produksi dan peningkatan kesejahteraan petani kopi.

Peluncuran SKN berlangsung di GRHA INSTIPER bersamaan dengan ceramah motivasi Rachmat kepada mahasiswa baru dan civitas akademika INSTIPER. Sebanyak 1.135 mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 mengikuti kegiatan tersebut.

Prosesi peluncuran dilakukan secara simbolis dengan menuangkan kopi hasil roasting secara bersama-sama ke dalam mesin grinder. Rachmat kemudian menyalakan mesin tersebut. Prosesi ini menjadi simbol keterlibatan berbagai pihak dalam membangun Sekolah Kopi Nusantara sekaligus menandai dimulainya program pendidikan kopi di lingkungan INSTIPER.

Acara tersebut juga dihadiri Ketua Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, Ketua Forum Pengembangan Perkebunan Stratgis Berkelanjutan (FP2SB) Achmad Mangga Barani, Mantan Dirjen Perkebunan Bambang, Rusman Heriawan dan segenap jajaran pengurus Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) serta pengurus, pembina dan pendiri Sekolah Kopi Nusantara.

Dr. Ir. Purwadi, MS. Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) salah satu inisiator mengatakan, Sekolah Kopi Nusantara ini dikembangkan melalui kolaborasi INSTIPER, Dewan Kopi Indonesia dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY). Ekosistem tersebut dirancang untuk mempertemukan pendidikan, industri, pemerintah dan kebutuhan masyarakat perkopian.

Konsep yang dikembangkan tidak berhenti pada pendidikan formal. SKN menggabungkan jalur pendidikan formal dan nonformal sehingga keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat diakui dan dilanjutkan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi melalui mekanisme Recognition of Prior Learning (RPL).

Pada jalur nonformal, SKN memiliki tiga tingkatan program. Yakni Micro Skill Program selama 3–5 hari, Applied Coffee Skills selama 10–12 hari, dan Professional Coffee Academy selama 10–12 minggu.

Komposisi pembelajarannya dibuat lebih banyak praktik. Sebanyak 25 persen berupa teori, sedangkan 75 persen merupakan praktik berbasis kompetensi.

Sementara pada jalur formal, pendidikan dikembangkan secara bertingkat melalui D1 Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY STIPER), D3 Politeknik Industri Perkebunan (PIP STIPER), dan S1 INSTIPER.

Struktur tersebut memungkinkan pengembangan kompetensi secara berjenjang, mulai dari operator terampil, supervisor unit, hingga analis, perancang, dan inovator dalam sistem kopi berkelanjutan.

Dr. Ir. Purwadi mengatakan Sekolah Kopi Nusantara dirancang untuk menjawab kebutuhan SDM perkopian secara menyeluruh.

“Sekolah Kopi Nusantara dirancang untuk menjawab kebutuhan pengembangan sumber daya manusia perkopian secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir,” ujar Purwadi.

Menurut dia, peserta tidak hanya belajar budidaya kopi. Materi juga mencakup pengolahan, mutu, roasting, brewing, barista hingga bisnis kopi.

Kurikulum SKN disusun mengikuti seluruh rantai nilai kopi. Materinya mencakup Fondasi Kopi Nusantara dan Profesionalisme, Agroekosistem dan Pembentukan Kebun, Produksi Kopi Berkelanjutan, Panen dan Pengolahan Pascapanen, Mutu dan Traceability, Roasting dan Sensori, Brewing dan Espresso, Barista dan Operasi Layanan, Bisnis dan Rantai Nilai Kopi, hingga Immersi Industri dan Proyek Akhir.

Dengan kurikulum tersebut, SKN ingin mengubah cara pandang terhadap pendidikan kopi. Kopi tidak hanya dipelajari sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai industri yang memiliki rantai nilai panjang dan membutuhkan tenaga profesional pada setiap tahapannya.

Fasilitas pendukung juga disiapkan INSTIPER. Pembelajaran sektor hulu didukung SEAT Ungaran. Untuk pengolahan dan pengembangan mutu tersedia Pilot Plant Pengolahan Hasil Perkebunan. Sementara sektor hilir ditopang INSTIPER Lab Coffee yang digunakan untuk pembelajaran brewing, espresso, sensori, pelayanan dan bisnis kopi.

Model pembelajaran juga dirancang terhubung dengan dunia industri melalui kombinasi kegiatan di kampus, praktik lapangan, proyek industri dan asesmen berbasis bukti kompetensi.

Kopi Bukan Sekadar Komoditas

Peluncuran Sekolah Kopi Nusantara memiliki arti strategis karena industri kopi Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Harga, produksi, perubahan iklim, mutu, teknologi, ketertelusuran, hingga kemampuan melakukan hilirisasi menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Dalam pertemuan sebelumnya, Rachmat juga menekankan pentingnya pengembangan SDM kopi. Ia menyebut Sekolah Kopi Nusantara bukan sekadar sekolah barista, melainkan bagian dari upaya membangun kedaulatan kopi Indonesia. Program tersebut dirancang mencakup pengembangan SDM dari hulu ke hilir, termasuk riset hilirisasi dan sertifikasi.

Di INSTIPER, gagasan tersebut mulai diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan yang lebih konkret.

Rektor INSTIPER, Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng., mengatakan sektor perkebunan memiliki posisi penting dalam pembangunan nasional. Perkebunan tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

“Hari ini merupakan kesempatan luar biasa karena di tengah-tengah kita telah hadir Prof. Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, MS., Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang akan memberikan motivasi kepada seluruh civitas akademika INSTIPER khususnya kepada 1.135 mahasiswa baru,” ujar Harsawardana.

Ia menilai pilihan mahasiswa untuk menempuh pendidikan di INSTIPER merupakan bagian dari proses menyiapkan SDM unggul yang kelak dapat berkontribusi terhadap pembangunan perkebunan dan kehutanan Indonesia.

Pesan tersebut diperkuat Rachmat dalam ceramah motivasinya. Ia meminta mahasiswa tidak hanya mengejar gelar, tetapi membangun kompetensi, karakter dan kemampuan menghadapi persoalan nyata.

“Indonesia membutuhkan kalian, generasi muda yang siap berkarya membangun Indonesia,” kata Rachmat.

Bagi industri kopi, kebutuhan terhadap generasi muda dengan kompetensi seperti itu semakin penting. Rantai kopi membutuhkan orang yang memahami tanaman sekaligus teknologi, memahami produksi sekaligus mutu, dan memahami produk sekaligus pasar.

Sekolah Kopi Nusantara mencoba mengisi celah tersebut.

Dari kebun hingga cangkir, peserta didorong memahami bagaimana kopi diproduksi secara berkelanjutan, dipanen dengan benar, diolah, diuji mutunya, disangrai, diseduh, dipasarkan dan dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Dengan kata lain, yang dibangun INSTIPER bukan sekadar sekolah untuk membuat secangkir kopi lebih enak. Yang sedang dibangun adalah ekosistem manusia yang mampu membuat kopi Indonesia memiliki nilai lebih tinggi.

Peluncuran Sekolah Kopi Nusantara oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas menjadi penanda bahwa pengembangan industri kopi mulai ditempatkan dalam perspektif pembangunan SDM dan peningkatan nilai tambah.

Jika konsep tersebut berjalan konsisten, SKN berpotensi menjadi simpul pendidikan yang mempertemukan petani, industri, akademisi, pemerintah dan generasi muda.

Sebab pada akhirnya, masa depan kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa ton kopi yang bisa dipanen dari kebun. Masa depan itu juga ditentukan oleh siapa yang menguasai pengetahuan, teknologi, mutu, inovasi dan rantai nilai kopi dari hulu hingga hilir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini