TPOMI 2026 Dorong Transformasi Teknologi dan Talenta Sawit Menuju Indonesia Emas 2045

0
Ketua Panitia 4th TPOMI 2026, Ir. Posma Sinurat
Ketua p3pi Bidang Pabrik Kelapa Sawit/ Ketua Panitia 4th TPOMI 2026, Ir. Posma Sinurat, MT (batik merah) berfoto bersama narasumber setelah konferensi pers di kawasan Cawang, Jakarta, Rabu, 2 Juni 2026. Do: Supiant/Majalah Hortus

Forum The 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 akan kembali digelar pada 7-10 Juli 2026 di Medan, Sumatera Utara. Mengusung tema Updating Technology and Talent Palm Oil Mill and Downstream, ajang ini menjadi wadah pembaruan teknologi sekaligus penguatan sumber daya manusia untuk mendukung kemajuan industri kelapa sawit nasional.

Ketua Panitia TPOMI 2026, Posma Sinurat mengatakan, penyelenggaraan tahun ini merupakan gelaran keempat setelah sebelumnya dilaksanakan di Jakarta, Bandung, dan Medan. Menurutnya, perkembangan teknologi di industri sawit harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas talenta yang mengoperasikannya.

Teknologi baru, teknologi canggih kalau tanpa talent maka teknologi itu akan sia-sia, tidak akan sustainable. Karena itu, kita gabung,” ujar Posma dalam konferensi pers di kawasan Cawang, Jakarta, Rabu (2/6).

TPOMI 2026 diperkirakan diikuti sekitar 400 peserta dengan dukungan 40 booth pameran.  Sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang diharapkan membuka acara serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie yang telah mengonfirmasi kehadirannya sebagai keynote speaker.

Posma menjelaskan, penyelenggaraan TPOMI 2026 memiliki makna khusus karena bertepatan dengan momentum 115 tahun sawit komersial di Indonesia. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta akan mengikuti kunjungan ke perusahaan sawit yang telah beroperasi selama 115 tahun.

Menurutnya, industri pengolahan sawit masih menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi tingkat rendemen atau oil extraction rate (OER), mulai dari kehilangan minyak (oil losses), kehilangan inti sawit (kernel losses), downtime pabrik, pengelolaan limbah cair pabrik kelapa sawit (POME), kualitas SDM, digitalisasi, hingga aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

“Di TPOMI nanti pembicara-pembicaranya ada. Kemudian dari teknologi untuk membantu mengatasi ini

juga ada.Jadi TPOMI menjembatani antara praktisi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, vendor teknologi, media, dan juga mahasiswa,” ujarnya.

Secara umum, kegiatan ini diarahkan untuk mendukung agenda besar hilirisasi komoditas perkebunan menuju sawit sebagai salah satu pilar Indonesia Emas 2045.

Posma menegaskan pesan utama TPOMI 2026 adalah menjadikan forum ini sebagai ruang transformasi teknologi dan talenta di industri sawit. Menurutnya, kemajuan industri tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan salah satu aspek tersebut.

Rangkaian kegiatan akan diawali dengan penyelenggaraan Medbun Award pada 7 Juli 2026. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang dinilai konsisten melakukan inovasi guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan usaha.

“Jadi, kami mendorong perusahaan-perusahaan untuk berinovasi. Kami sudah seleksi perusahaan-perusahaan yang paling konsisten untuk melakukan inovasi-inovasi terbaru sehingga mereka bisa semakin produktif,” ujar Posma.

Ia menambahkan, upaya tersebut merupakan kontribusi TPOMI bersama Persatuan Praktisi Perkebunan Indonesia (P3PI) dan Media Perkebunan dalam mendorong peningkatan produktivitas pabrik sawit nasional, termasuk peningkatan produksi CPO, produktivitas per hektare, dan rendemen.

Pada 8-9 Juli 2026, TPOMI akan menghadirkan berbagai sesi konferensi yang membahas kebijakan, teknologi, efisiensi energi, serta strategi peningkatan produktivitas pabrik. Para pembicara berasal dari kalangan praktisi, akademisi, hingga perusahaan-perusahaan besar yang akan berbagi pengalaman dalam meningkatkan dan mempertahankan rendemen.

Sementara itu, kunjungan lapangan pada 10 Juli akan dilakukan ke perusahaan sawit yang telah beroperasi selama 115 tahun sebagai bagian dari peringatan sejarah industri sawit Indonesia.

Dalam aspek teknologi, TPOMI 2026 mengangkat transformasi pabrik kelapa sawit dari sistem yang bersifat reaktif menuju smart palm oil mill berbasis data. Berbagai teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), otomasi, dan sistem keberlanjutan akan menjadi fokus pembahasan.

Posma mencontohkan, sejumlah perusahaan saat ini telah memanfaatkan AI untuk melakukan grading tandan buah segar sehingga proses penilaian kualitas buah menjadi lebih akurat dan berdampak pada peningkatan rendemen.

“Digitalisasi akan mendorong efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi. Penggunaan AI dalam grading buah terbukti membantu meningkatkan kinerja pabrik,” katanya.

Ia menegaskan, prinsip utama TPOMI adalah mendorong teknologi yang aplikatif, terukur, dan memberikan dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, K3, serta keberlanjutan industri sawit.

Menurutnya, TPOMI 2026 juga menjadi momentum untuk membangun narasi positif industri sawit Indonesia yang terus bergerak menuju industri yang lebih cerdas, efisien, aman, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan AI, IoT, dan otomasi.

Salah satu hal yang membedakan TPOMI 2026 dengan penyelenggaraan sebelumnya adalah pemberian penghargaan Best Mill TPOMI Palm Oil Mill Innovation Award. Penghargaan ini secara khusus diberikan kepada perusahaan yang berhasil menunjukkan capaian terbaik dalam produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

Perusahaan yang mengikuti ajang tersebut telah melalui proses penilaian. Delapan finalis terbaik akan mempresentasikan inovasinya pada 7 Juli 2026 sebelum penyerahan penghargaan dilakukan.

“Kami ingin mendorong para pengusaha dan manajemen pabrik untuk terus melahirkan inovasi. Melalui penghargaan ini kami berharap produktivitas pabrik kelapa sawit Indonesia dapat terus meningkat,” ujar Posma.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini