Prof Hariyadi Tawarkan Nexus Baru untuk Sawit Berkelanjutan

0
Prof. Dr. Hariyadi
Prof. Dr. Hariyadi menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Nexus Baru dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan di IPB University, Bogor, Sabtu 27 Juni 2026. Dok: tangkap layar.

Guru Besar Tetap Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Hariyadi, menawarkan konsep “Nexus Baru”sebagai pendekatan terpadu dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Menurutnya, masa depan industri sawit Indonesia harus dibangun melalui integrasi peningkatan produktivitas, perlindungan lingkungan, pemanfaatan teknologi, dan penguatan aspek sosial-ekonomi.

Dalam orasi ilmiah bertajuk Nexus Baru dalam Pengelolaan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan, Hariyadi mengatakan kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memiliki kontribusi besar bagi Indonesia.

“Kelapa sawit merupakan komoditas yang strategis bagi Indonesia karena memiliki banyak peran. Antara lain sebagai pemberi devisa negara lebih dari Rp500 triliun per tahun, penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat, pendukung industri hilir, pembangunan daerah, hingga program bioenergi,” ujar Hariyadi di Bogor, Sabtu (27/6).

Ia menjelaskan, kelapa sawit pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1848 dan mulai dibudidayakan secara komersial pada masa kolonial. Namun, selama hampir satu abad hingga Indonesia merdeka pada 1945, luas perkebunan sawit baru mencapai sekitar 100 ribu hektare. 

Setelah kemerdekaan, perkembangannya berlangsung sangat cepat. Dalam 65 tahun berikutnya, luas perkebunan sawit melonjak menjadi sekitar 8,2 juta hektare, lalu terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 16,83 juta hektare. 

Menurutnya, pertumbuhan yang sangat pesat tersebut menuntut penerapan tata kelola yang semakin berkelanjutan. “Oleh karena itu, pengelolaan kelapa sawit harus dilakukan secara berkelanjutan,” katanya.

Hariyadi menegaskan, pengelolaan sawit berkelanjutan harus dimulai dari penerapan praktik budidaya dan manajemen kebun yang baik, mulai dari pemilihan lokasi, penggunaan benih unggul, kepatuhan terhadap regulasi dan standar operasional, hingga pengelolaan limbah menuju konsep zero waste. Seluruh proses tersebut juga perlu diperkuat melalui sertifikasi ISPO maupun RSPO.

Ia mengungkapkan tantangan perkebunan sawit saat ini masih mencakup persoalan legalitas lahan, penggunaan benih, produktivitas, konflik sosial, hingga isu lingkungan seperti deforestasi, degradasi lahan, emisi karbon, dan keanekaragaman hayati.

“Berdasarkan penelitian kami, sekitar 30 persen pekebun sudah memiliki sertifikat hak milik, 45 persen memiliki surat keterangan tanah, dan 25 persen lainnya belum memiliki dokumen kepemilikan lahan. Dari sisi benih, sekitar 40 persen pekebun masih menggunakan bibit palsu, sehingga produktivitasnya jauh lebih rendah dibandingkan benih unggul bersertifikat,” ujarnya.

Hariyadi mengatakan pemupukan menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas karena menyumbang porsi terbesar biaya pemeliharaan kebun.

“Penggunaan pupuk slow release 75 persen mampu memberikan pertumbuhan bibit yang terbaik. Sementara aplikasi janjang kosong dapat meningkatkan produktivitas TBS hingga 20 persen dan mengurangi kebutuhan pupuk kimia sampai 30 persen,” katanya.

Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan teknik regenerasi akar (root pruning) pada tanaman dewasa mampu meningkatkan produksi tandan buah segar hingga sekitar 15 persen per tanaman.

Di bidang lingkungan, Hariyadi menjelaskan bahwa emisi gas rumah kaca terbesar terjadi pada fase tanaman belum menghasilkan. Ketika tanaman memasuki fase menghasilkan, emisi turun drastis dan sebagian besar berasal dari aktivitas pemupukan.

“Penggunaan urea berlapis penstabil nitrogen terbukti mampu mengurangi penguapan amonia sekaligus menekan emisi CO2 saat pemupukan kelapa sawit,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan tanaman sawit berumur lebih dari 15 tahun mampu menyimpan karbon sekitar 70 ton per hektare atau sekitar 32 persen dibandingkan hutan tropis.

“Kelapa sawit juga mampu memproduksi oksigen sekitar 21,2 ton per hektare per tahun dan berdasarkan perbandingan hasil produksi dengan konsumsi air per hektare, sawit lebih efisien dibandingkan padi sawah, kedelai, maupun karet,” katanya.

Menurut Hariyadi, pemanfaatan teknologi digital seperti citra multispektral berbasis UAV juga dapat membantu memantau kondisi kebun secara lebih presisi, termasuk tingkat kehijauan daun dan kelembapan tanah.

Ia juga menyoroti ancaman penyakit ganoderma yang dapat menyebabkan kehilangan lebih dari 50 persen populasi tanaman pada kebun berumur 25 tahun apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Untuk meningkatkan pendapatan petani, Hariyadi mendorong pengembangan sistem integrasi sawit dengan peternakan maupun pola tumpang sari.

“Program integrasi sapi dan sawit terbukti mampu menghemat biaya pemeliharaan, meningkatkan kesuburan tanah, menaikkan produktivitas TBS, serta meningkatkan efisiensi tenaga kerja,” ujarnya.

Menutup orasinya, Hariyadi memperkenalkan konsep “Nexus Baru” sebagai kerangka pembangunan sawit berkelanjutan yang mengintegrasikan peningkatan produktivitas, ketahanan iklim, ekonomi sirkular berbasis hayati, pemantauan digital, ketahanan sosial-ekonomi, serta pemanfaatan hasil riset sebagai dasar pengambilan kebijakan.

“Pendekatan baru ini mengintegrasikan berbagai faktor lingkungan, ekonomi, teknologi, dan sosial untuk menjawab tantangan besar industri sawit Indonesia ke depan,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini