Medan, 12 Agustus 2026 – Kemampuan memahami dan memetakan lokasi perkebunan menjadi semakin penting dalam mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang tertib, produktif, dan berkelanjutan. Melalui Pelatihan Pemetaan Lokasi Perkebunan, sebanyak 28 pekebun dan Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, mendapatkan pembekalan teknis untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan pemetaan lahan perkebunan.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM-PKS) Tahun 2026 ini berlangsung pada 3–6 Agustus 2026 di Hotel AIHO Medan. Pelatihan diselenggarakan melalui kolaborasi dan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian RI, dengan Koompasia sebagai mitra pelaksana pelatihan.
Pelatihan dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman mengenai peta dan koordinat, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
Materi pembelajaran mencakup pengenalan geospasial, dasar-dasar pemetaan lahan, penentuan titik koordinat, pembuatan peta kerja, perencanaan survei, hingga pemahaman mengenai regulasi dan kebijakan terkait pemetaan perkebunan. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengolahan data hasil survei, penyajian peta, serta tahapan pelaksanaan pemetaan lahan di lapangan.
Dengan materi tersebut, peserta diharapkan mampu memetakan lahan perkebunan secara lebih akurat sehingga dapat mendukung pengelolaan lahan yang lebih terarah dan berbasis data.
Kegiatan pelatihan pemetaan lokasi perkebunan turut mendapat perhatian dari Komite SDMP BPDP. Dalam kunjungannya, Dewi Wulandari, S.Si., mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang dinilainya unik dan mampu membangkitkan semangat tinggi para peserta. Ia juga melihat secara langsung antusiasme peserta yang begitu aktif dan bersemangat dalam mengikuti setiap rangkaian pelatihan. Menurutnya, semangat tersebut menjadi salah satu indikator positif bahwa pelatihan pemetaan lokasi perkebunan mendapat respons yang baik sekaligus memberikan pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat bagi para peserta.
Pelatihan ini merupakan kesempatan yang baik bagi para peserta untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Harapannya, seluruh peserta dapat mengikuti setiap tahapan dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di lapangan,” ujar Dewi.
Menurutnya, pemahaman mengenai pemetaan tidak hanya penting untuk mengetahui posisi dan luasan lahan, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola perkebunan yang lebih baik.
Selama pelatihan, para peserta juga memperoleh pembaruan mengenai kebijakan terbaru terkait pemetaan lokasi perkebunan. Berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi pekebun dalam menerapkan standar keberlanjutan turut menjadi bahan diskusi, sehingga peserta tidak hanya memahami aspek teknis pemetaan, tetapi juga konteks penerapannya dalam pengelolaan perkebunan yang memenuhi standar.
Puncak kegiatan pelatihan ditandai dengan kunjungan lapangan (field trip) pada Rabu, 5 Agustus 2026. Para peserta mengunjungi Gapoktan Tani Mandiri di Laut Tador, Kabupaten Batu Bara.
Dalam kunjungan tersebut, peserta berkesempatan mempraktekkan secara langsung penerapan materi yang telah dipelajari selama pelatihan. Sebagai contoh para peserta melakukan pengambilan titik koordinat lahan dan langsung mengolahnya. Selanjutnya pengambilan foto udara untuk menjadi peta citra dengan tujuan dapat melihat kondisi kebun terkini pemetaan di lahan pekebun. Mereka juga berdiskusi secara interaktif dengan pengelola perkebunan mengenai kondisi dan pengelolaan lahan, sekaligus mempraktikkan proses pemetaan secara langsung di kebun sawit milik anggota Gapoktan Tani Mandiri menggunakan teknologi aplikasi pendukung.
Kegiatan praktik lapangan memberikan pengalaman nyata kepada peserta dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan kondisi perkebunan yang sebenarnya. Peserta dapat memahami tahapan pemetaan secara lebih konkret, mulai dari pengambilan titik koordinat hingga pengolahan dan pemanfaatan data pemetaan. Pada akhir pelatihan ini, para peserta sudah bisa membuat peta hasil yang sudah diprint-out dari pemetaan lapangan sewaktu praktik lapang kemari
Dengan kombinasi materi yang terstruktur, metode pembelajaran yang interaktif, serta pengalaman praktik langsung di lapangan, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas para pekebun, ASN, dan penyuluh dalam melaksanakan pemetaan lokasi perkebunan.
Bekal pengetahuan dan keterampilan tersebut diharapkan dapat mendukung para pekebun dalam memenuhi berbagai persyaratan pengelolaan perkebunan berkelanjutan, termasuk dalam proses menuju sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi tantangan dan peluang di sektor perkebunan kelapa sawit di masa mendatang.






























