Medan, 10 Agustus 2026 – Sebanyak 60 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Aceh Singkil mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan oleh PT Koompasia Enviro Institute pada 3–8 Agustus 2026 di salah satu hotel bintang empat di Kota Medan.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM-PKS) ini dilaksanakan dalam dua angkatan, yakni Angkatan VII dan VIII. Selama enam hari, peserta mengikuti pembelajaran yang memadukan lima hari pembelajaran di kelas dengan satu hari praktik lapang di PT Amal Tani – Perkebunan Tanjung Putri.
Pelatihan dibuka pada 3 Agustus 2026 oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh yang diwakili Mukhlis, S.P., M.A. Dalam sambutannya, ia mengingatkan peserta agar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung di kebun masing-masing.
“Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan seperti ini. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tentang budidaya kelapa sawit yang baik dan benar,” ujarnya.
Program SDM-PKS merupakan bagian dari upaya Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) dalam memperkuat kapasitas dan kualitas sumber daya manusia perkebunan rakyat. Peningkatan kompetensi pekebun dipandang sebagai investasi penting untuk mendorong pengelolaan kebun yang semakin profesional, produktif, mandiri, serta menerapkan praktik budidaya yang baik dan berkelanjutan.
Direktur PT Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, mengatakan bahwa pelatihan yang disiapkan dalam program ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan tersebut dapat dipahami dan diterapkan peserta di tingkat kebun.
Menurutnya, Koompasia sebagai penyelenggara berkomitmen memberikan proses pembelajaran yang berkualitas melalui keterlibatan narasumber dan trainer yang memiliki pengalaman praktis di perusahaan perkebunan, metode pembelajaran interaktif, penggunaan alat peraga, praktik yang mendukung pemahaman peserta, serta penyediaan fasilitas pembelajaran yang memadai.
“Kami ingin memastikan peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu melihat bagaimana prinsip-prinsip budidaya tersebut diterapkan dalam kondisi nyata. Karena itu, pembelajaran kami lengkapi dengan diskusi, alat peraga, dan praktik sehingga peserta memiliki gambaran yang lebih konkret untuk diterapkan di kebun masing-masing,” ujar Henry.
Hal senada disampaikan Master Trainer Koompasia, Ronald Pasaribu. Ia menegaskan bahwa materi dan metode pembelajaran dirancang sedekat mungkin dengan kondisi aktual yang dihadapi pekebun swadaya.
“Pelatihan ini benar-benar dirancang dengan pendekatan yang serelevan mungkin dengan kondisi aktual pekebun swadaya. Karena itu, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak berdiskusi, membahas persoalan yang mereka hadapi, dan melihat langsung penerapannya melalui praktik lapang,” jelas Ronald.
Pendekatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Dewi Wulandari, S.Si., selaku Komite SDMP Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan. Ia menekankan pentingnya peserta mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran secara serius agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat diterapkan di kebun masing-masing.
Dewi juga mengapresiasi pelaksanaan pelatihan yang dinilai berlangsung dengan baik, aktif, dan interaktif. Menurutnya, keterlibatan peserta dalam proses pembelajaran menjadi salah satu faktor penting agar materi yang diberikan dapat dipahami dan diimplementasikan secara optimal.
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan Plt. Kepala Dinas Perkebunan Aceh Singkil. Ia menyampaikan bahwa para pekebun menyambut baik kesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Tingginya antusiasme terlihat dari banyaknya pekebun yang belum memperoleh kesempatan pelatihan dan telah menantikan pelaksanaan program pada tahapan berikutnya.
Bagi peserta, pelatihan tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi kembali praktik pengelolaan kebun yang selama ini dilakukan. Surianto J, salah seorang peserta, mengatakan bahwa pelatihan tersebut telah lama dinantikan dan memberikan wawasan baru mengenai pengelolaan kebun kelapa sawit.
“Pelatihan ini sudah lama kami tunggu. Banyak pengetahuan dan wawasan baru yang kami dapatkan. Seluruh pengetahuan yang diperoleh akan kami terapkan di kebun sawit kami,” ungkapnya.
Selain pembelajaran di kelas, praktik lapang menjadi bagian penting dalam rangkaian pelatihan. Melalui kunjungan dan praktik langsung di kebun, peserta dapat melihat penerapan teknis budidaya secara lebih konkret, sekaligus menghubungkan materi yang diperoleh di kelas dengan kondisi nyata di lapangan.
Melalui kombinasi pembelajaran kelas, diskusi interaktif, alat peraga, dan praktik lapang, pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam praktik budidaya di tingkat kebun.






























