Tingkatkan Produktivitas Sawit Rakyat, SDM Pekebun Jadi Investasi Penting

0

PEKANBARU – Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun dinilai menjadi salah satu investasi penting untuk memperbaiki produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Bengkalis, Riau. Dengan areal perkebunan yang mencapai sekitar 157 ribu hektare, peningkatan kemampuan pekebun menjadi kebutuhan strategis untuk mendorong produksi sekaligus kesejahteraan.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan VII Tahun 2026, bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan dilaksanakan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB) yang diikuti 30 peserta.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Kabupaten Bengkalis, Khairul Ashri, mengatakan pelatihan SDM harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pengetahuan yang diperoleh pekebun diharapkan dapat diterapkan langsung untuk memperbaiki praktik budidaya di kebun masing-masing.

“Kami dari Kabupaten Bengkalis selalu menganggap bahwa pelatihan peningkatan SDM ini adalah investasi bagi peningkatan produksi perkebunan di masa yang akan datang,” kata Khairul.

Menurut dia, besarnya areal perkebunan Bengkalis membuat peningkatan kapasitas pekebun menjadi sangat penting. Pada 2026, sebanyak 496 SDM dari Kabupaten Bengkalis direkomendasikan mengikuti berbagai program pelatihan. Dari jumlah tersebut, 274 orang mengikuti pelatihan budidaya kelapa sawit.

Khairul mengatakan Kabupaten Bengkalis masih menghadapi persoalan rendahnya produksi perkebunan, khususnya kelapa sawit. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah karakteristik lahan karena sebagian areal perkebunan berada di kawasan gambut.

Kondisi tersebut membutuhkan penerapan teknik budidaya yang tepat. Menurut Khairul, karakteristik lahan gambut membuat pekebun tidak dapat sepenuhnya menerapkan pola pengelolaan yang sama dengan kebun di lahan mineral.

Karena itu, peserta diminta memanfaatkan kesempatan pelatihan untuk berkonsultasi secara langsung dengan para narasumber mengenai persoalan yang dihadapi di kebun masing-masing.

“Mulai dari pemilihan bibit, pemupukan, penanganan hama dan penyakit, sampai panen. Banyak sekali ilmunya,” ujarnya.

Khairul berharap pengetahuan tersebut tidak berhenti di ruang pelatihan. Setelah kembali ke Bengkalis, peserta diminta menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun atau kelompok masing-masing sekaligus menularkannya kepada pekebun lain.

Produktivitas Masih Rendah

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, mengatakan rendahnya produktivitas masih menjadi persoalan yang banyak dihadapi pekebun swadaya. Menurut dia, produktivitas sawit rakyat di Riau masih berada di kisaran 3 ton lebih per hektare.

Kondisi tersebut cukup jauh jika dibandingkan dengan sejumlah perkebunan yang mampu menghasilkan hingga sekitar 24 ton TBS per hektare per tahun. Perbedaan tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan produktivitas melalui penerapan standar budidaya yang lebih baik.

Supriadi mengatakan sawit pada dasarnya merupakan komoditas yang sederhana jika dilihat dari hasil akhirnya, yakni berapa banyak tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan dan berapa pendapatan yang diterima pekebun.

Namun, untuk mencapai produktivitas tinggi, setiap tahapan budidaya harus dilakukan secara terukur, mulai dari pengolahan lahan, pemilihan bibit, pemeliharaan, pemupukan hingga panen.

“Kalau perusahaan bisa mencapai 26–28 ton, petani juga harus bisa mencapai angka tersebut,” kata Supriadi.

Menurut dia, pekebun tidak seharusnya merasa rendah diri ketika melihat produktivitas perusahaan lebih tinggi. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki tata kelola kebun.

Ia menilai sebagian pekebun masih menjalankan budidaya berdasarkan kebiasaan. Bibit dipilih berdasarkan harga, pengolahan lahan dilakukan seadanya, sementara pemeliharaan belum dilakukan secara konsisten. Pola seperti itu pada akhirnya membuat potensi tanaman tidak tercapai.

Pelatihan Harus Berujung Perubahan

Supriadi menekankan pelatihan harus menghasilkan perubahan nyata setelah peserta kembali ke kebun. Para pekebun yang sudah berpengalaman tetap perlu membuka diri terhadap pengetahuan baru yang diberikan narasumber.

Materi pelatihan dapat digunakan sebagai pembanding untuk mengevaluasi praktik yang selama ini dilakukan. Sementara bagi peserta yang belum memiliki pengalaman panjang dalam berkebun, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dari para praktisi dan narasumber berpengalaman.

Ia meminta peserta memperbanyak diskusi selama pelatihan, terutama mengenai persoalan teknis yang mereka hadapi di lapangan.

“Ini merupakan langkah awal kita untuk berbenah dan memastikan agar petani sawit tidak menjadi orang kelas dua lagi di perkebunan,” ujarnya.

Supriadi juga mengingatkan peserta agar memanfaatkan program pengembangan SDM secara serius. Menurut dia, dukungan pembiayaan dari dana perkebunan harus memberikan manfaat kembali kepada pekebun melalui peningkatan pengetahuan dan produktivitas.

Dengan demikian, pelatihan tidak cukup hanya menghasilkan peserta yang memahami teori budidaya. Pengetahuan tersebut harus diterjemahkan menjadi perubahan praktik di kebun.

Khairul berharap rangkaian pelatihan yang diikuti SDM Bengkalis dapat menjadi momentum untuk memperbaiki produktivitas perkebunan secara bertahap. Dengan penguatan kapasitas pekebun, penerapan teknik budidaya yang sesuai karakteristik lahan, serta kemauan untuk terus belajar, produktivitas sawit rakyat di Bengkalis diharapkan dapat meningkat dan pada akhirnya memberikan dampak terhadap kesejahteraan pekebun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini