
Tren impor tepung telur di Indonesia terus meningkat. Sepanjang 2024, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat volume impor mencapai 2.500 ton.
Hal tersebut disampaikan Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, Makmun, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat (25/7).
Menurut Makmun, jika produksi dalam negeri terus didorong dan ditingkatkan, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor tepung telur dan menuju swasembada dalam beberapa tahun ke depan.
“Tahun 2024, volume impor tepung telur mencapai 2.500 ton. Jika produksi dalam negeri kita dorong dan ditingkatkan, kita bisa mengurangi ketergantungan impor dan menuju swasembada dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama lintas sektor, seperti dukungan PT Sucofindo melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam memfasilitasi sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) bagi PT Sinergi Pangan Mandiri (Sipaman), merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah dan BUMN dalam membangun industri peternakan yang berdaya saing.
“Kami mendorong agar model pengolahan tepung telur di Blitar ini bisa direplikasi di sentra telur lain seperti di Lampung dan Jawa Tengah,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Lingkungan dan Industri PT Sucofindo, Budi Utomo, menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bentuk komitmen Sucofindo dalam mendukung penguatan industri pengolahan hasil peternakan, khususnya telur ayam.
“Kami melihat potensi produksi telur yang sangat besar di Blitar. Jika dilakukan hilirisasi yang tepat, maka dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan nilai tambah, stabilisasi harga, dan tentu saja kesejahteraan peternak,” ujarnya saat di Blitar (21/7).
Dukungan CSR diberikan dalam bentuk in kind, antara lain berupa pelatihan sumber daya manusia, penyusunan dokumen sistem mutu, penguatan sarana proses produksi, dan pendampingan hingga perolehan sertifikasi HACCP. Sertifikasi ini penting untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk tepung telur lokal.
PT Sucofindo sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang telah berpengalaman sejak tahun 1956 menyatakan kesiapan penuh dalam mendampingi UMKM peternakan memperoleh sertifikasi mutu.
“Kami siap bekerja sama lebih luas, termasuk menjalin kolaborasi dengan BUMN pangan seperti ID Food untuk mendukung ekspansi industri tepung telur nasional,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi ini, Kementan berharap industri pengolahan telur nasional akan semakin kompetitif, berdaya saing global, dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi peternakan rakyat.





























