Pengamat Pertanian, Khudori mengungkap alasan sejumlah beras premium semakin sulit ditemukan di ritel modern dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya harga gabah yang membuat produsen beras kesulitan menjaga margin keuntungan.
“Kenapa 3–4 bulan ini kalau yang biasa belanja ke ritel modern, enggak menemukan lagi beras premium yang biasa Anda beli. Itu karena produsennya enggak kuat, mereka sudah rugi, berdarah-darah,” kata Khudori dalam Rice Resilience Forum 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (17/9).
Khudori menjelaskan, harga gabah di tingkat petani saat ini mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram, jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
Menurut dia, tingginya harga gabah tidak terlepas dari kebijakan penyerapan BULOG dalam jumlah besar. BULOG mendapat target penyerapan 4 juta ton beras pada tahun ini setelah pada tahun sebelumnya menyerap sekitar 3,4 juta ton.
“Ketika BULOG ditarget membeli dalam jumlah besar dan sebagai pembeli awal, yang terjadi adalah terjadi perebutan gabah di pasar itu luar biasa,” ujarnya.
Di sisi lain, produsen beras tidak leluasa menaikkan harga jual karena harga beras di tingkat konsumen dibatasi oleh Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi tersebut, kata Khudori, membuat penggilingan dan produsen beras berada dalam posisi terjepit.
Khudori menyebut kerugian produsen beras berbeda-beda. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari sejumlah produsen, ada yang mengalami kerugian sekitar Rp600 per kilogram hingga Rp2.000 per kilogram.
“Kalau berjualan di atas HET, siap-siap berurusan dengan aparat penegak hukum. Kalau menjual di bawah sesuai HET, pasti rugi,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di tingkat peritel. Khudori mengatakan berdasarkan pembicaraannya dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), peritel sebenarnya masih dapat menyediakan beras premium. Namun, harga pembelian dari pemasok sudah berada di atas HET.
Dia menyebut HET beras premium di Jawa sebesar Rp14.900 per kilogram, sementara harga yang dibayarkan peritel kepada pemasok berada di kisaran Rp15.200 hingga Rp 15.500 per kilogram.
“Jadi, dia harus rugi kalau menjual itu antara Rp 300 sampai Rp 600,” ujar Khudori.
Khudori menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena tekanan di tingkat produsen dan peritel pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan beras premium di pasar.
Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) itu juga mengingatkan perubahan kebijakan yang tidak memperhatikan kondisi seluruh rantai pasok dapat mengganggu ekosistem perberasan, mulai dari petani, penggilingan, produsen, peritel hingga konsumen.






























