Menghadapi Dampak El Nino pada Rantai Pasok: Apical Implementasi Teknologi

0
Hamparan sawit. (Foto: Ist)

Industri kelapa sawit hingga tahun depan masih menghadapi tantangan berat sebagai akibat dampak El Nino sejak 2015 sehingga akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan produksi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan, El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk seperti di Indonesia.

Kepala Pusat Studi Sawit IPB, Prof. Budi Mulyanto mengatakan, kata kunci terpenting dalam menghadapi El Nino ini adalah bagaimana masyarakat bisa bergerak bersama-sama dan berhati-hati dalam menghadapinya.

“Semua pihak musti bersiap-siap dengan baik dan berhati-hati dengan adanya potensi kebakaran. Hal ini bisa terjadi karena adanya kenaikan suhu panas yang dapat memicu kekeringan disusul kebakaran. Dan saya yakin rakyat tidak ingin kebunnya terbakar sehingga perlu dibangun kesadaran adanya masyarakat yang peduli menangani api,” kata Budi baru-baru ini.

Seperti diketahui, El Nino berdampak pada pertumbuhan, perkembangan bunga-buah dan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) maupun rendemen dapat menjadi lebih rendah. Gejala El Nino disebut bakal mendorong munculnya bunga jantan (menurunkan sex ratio) dan akan menurunkan cadangan buah.

Kondisi ini membuat terjadi aborsi bunga betina sebelum berkembang, terutama pada tanaman muda (3-5 tahun) dan kemudian terjadi kegagalan tandan. Akibatnya, produktivitas TBS Sawit dan Crude Palm Oil (CPO) per akan mengalami penurunan sampai 40-50% dari produktivitas normalnya.

Untuk itu, Apical memanfaatkan teknologi dalam memenuhi persyaratan kebijakan keberlanjutan. Ambil contoh Tim Sustainability yang ada di perusahaan pengelola dan pengekspor minyak sawit dan turunannya ini secara rutin menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis atau Geographic Information System (GIS) untuk memetakan dan memantau pergerakan minyak sawit melalui jaringan pasokannya.

Untuk mengatasi hal ini, Apical memanfaatkan teknologi dan menerapkan beberapa inisiatif untuk memenuhi persyaratan kebijakan keberlanjutan dan secara proaktif memitigasi dampak El Nino, yang meliputi hal-hal berikut ini :

  1. Pemanfaatan teknologi untuk pemantauan rantai pasokan yang proaktif

Apical menggunakan teknologi GIS untuk memetakan rantai pasokan untuk pemantauan rutin.

“Inspeksi rutin ini membantu kami untuk secara proaktif melibatkan dan memastikan kepatuhan pemasok kami terhadap Kebijakan Keberlanjutan dan/atau pengadaan kami, memfasilitasi penentuan prioritas dan perumusan tindakan tindak lanjut melalui program kami,” begitulah bunyi pernyataan Manajemen Apical, belum lama ini, di Jakarta.

Teknologi GIS ini juga memungkinkan pemantauan aktivitas penggunaan lahan secara akurat dan nyaris real-time untuk mendeteksi kondisi penggunaan lahan untuk menghentikan dan mencegah kegiatan deforestasi di seluruh pasokannya dalam rangka menjaga ekosistem dan lingkungan sekitar.

Dalam praktek di lapangan, Apical menggunakan :

Pemantauan satelit oleh Spesialis GIS Apical, mengadopsi GFW (Global Forest Watch) Pro, GLAD (Global Land Analysis & Discovery) peringatan deforestasi, dan RADD (Radar untuk Deteksi Deforestasi); serta memastikan penilaian independen dan pemantauan satelit melalui Transform Platform, oleh organisasi nirlaba, Earthqualizer.

  1. Program keterlibatan dengan petani

Program keterlibatan dengan petani merupakan komponen penting dalam memastikan pencegahan kebakaran. Melalui program keterlibatan dengan petani misalnya melalui Program Smallholder Inclusion for better Livelihood & Empowerment (SMILE); program kerja sama Apical dengan Kao Corporation dan Asian Agri; serta Program Desa Hidup Berkelanjutan, lokakarya rutin dan sesi peningkatan kapasitas dilakukan untuk menekankan praktik pertanian yang baik dan berkelanjutan yang mencakup pengelolaan kebakaran. Dengan mengedukasi para petani, hal ini menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya pencegahan kebakaran.

  1. Kolaborasi dengan pemasok

Apical percaya bahwa pencegahan kebakaran yang efektif memerlukan upaya kolektif dan Apical terus mendukung dan mendorong pemasok mereka untuk melakukan mitigasi kebakaran secara proaktif.

Bersama dengan para pemasok, pelatihan yang ditargetkan dapat diimplementasikan untuk membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola dan mencegah insiden kebakaran secara efektif, serta menjembatani kesenjangan pengetahuan untuk penggunaan peralatan pencegahan kebakaran yang tepat dan penanganan darurat kebakaran yang efisien.

  1. Surat peringatan dan pedoman/guideline

Untuk memastikan para pemasok Apical selalu sadar akan risiko yang terkait dengan El Nino dan pentingnya pencegahan kebakaran, Apical mengirimkan surat peringatan. Surat-surat tersebut memuat pedoman yang komprehensif, seperti panduan “Pencegahan, Deteksi Dini, dan Pengendalian Pembakaran Terbuka di Perkebunan Kelapa Sawit” yang dipublikasikan di website Apical yang dapat diakses di website Apical, www.apicalgroup.com di bagian Pencegahan, Deteksi Dini, dan Pengendalian Pembakaran Terbuka di Perkebunan Kelapa Sawit dan petunjuk tentang cara mencegah dan mengelola insiden kebakaran Dengan terlebih dahulu memberi tahu pemasok, Apical berusaha untuk mengembangkan pendekatan proaktif untuk pencegahan dan pengelolaan kebakaran.

  1. Memanfaatkan Manajemen Data

Manajemen Apical secara rutin mengumpulkan data ketertelusuran di seluruh rantai pasokannya untuk memastikan kepatuhan terhadap pedoman Nol Deforestasi, Nol Gambut, dan Nol Eksploitasi (NDPE) dan komitmen bebas deforestasi.

“Kami berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk LSM, mitra lokal, dan pemasok, untuk memastikan kelancaran pengumpulan data,” kata Manajemen Apical. Dengan memantau titik api menggunakan pemantauan satelit dan bersama dengan data yang dikumpulkan, Apical dapat mengidentifikasi titik api potensial untuk manajemen kebakaran yang efektif dan membuat keputusan berdasarkan informasi.

  1. Platform Digitalisasi

Sebagai bagian dari peta jalan keberlanjutan strategis Apical baru-baru ini, Apical2030, mereka telah mengembangkan beberapa platform digitalisasi – Sustainability Impact Management System (SIMS) dan Platform Pemasok Apical.

Platform ini memungkinkan Apical untuk merampingkan pengumpulan data, memastikan keakuratan dan memberikan wawasan waktu nyata serta memastikan kepatuhan terhadap peraturan bebas deforestasi. Upaya digitalisasi ini melengkapi mekanisme pemantauan yang kuat untuk memantau kondisi rantai pasokan secara proaktif dan efisien.

Mitigasi Kebakaran Lahan

Ramalan BMKG tentang fenomena El Nino ekstrim pada semester II tahun ini menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2015 yang diperkirakan merusak 2,6 juta hektar di Sumatera dan Kalimantan. Bank Dunia memperkirakan bahwa krisis kebakaran tahun 2015 merugikan Indonesia sebesar US$16 miliar yang mencakup kerugian industri kehutanan, pertanian, pariwisata, dan lainnya.

Meskipun beberapa ahli meteorologi mengatakan El Nino tahun ini tidak akan sekuat tahun 2015, kekeringan yang berkepanjangan masih dapat mengeringkan vegetasi, menyediakan bahan bakar yang sangat mudah terbakar untuk kebakaran, memungkinkannya menyebar lebih cepat dan lebih jauh. Oleh karena itu, momok bencana 2015 harus diwaspadai semua pemangku kepentingan, dengan tekad baja untuk bekerja sama dalam pencegahan, deteksi, dan mitigasi kebakaran.

Sangat penting bagi perusahaan kelapa sawit untuk mengatasi ancaman kebakaran lahan/hutan di dalam dan sekitar konsesi.

Tekad untuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan juga harus didorong oleh permintaan pasar dan pemangku kepentingan akan akuntabilitas dalam pencegahan dan mitigasi kebakaran lahan. Dengan meluasnya penggunaan teknologi satelit, mudah bagi instansi pemerintah terkait, organisasi dan LSM untuk memantau hotspot di setiap lokasi, termasuk konsesi perkebunan kelapa sawit.

Industri kelapa sawit telah berkembang menuju sistem manajemen kebakaran modern dan telah berkomitmen pada prinsip-prinsip keberlanjutan, termasuk yang terkait dengan pencegahan kebakaran lahan dan ancaman kabut.

Dan perlu dipahami bahwa sistem pencegahan kebakaran perusahaan sawit tidak akan efektif tanpa dukungan dan kerjasama yang baik dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini