CPOPC Bantah Sawit Penyebab Kehilangan Keanekaragaman Hayati

0
Orang utan di Kebun Binatang Nasional di Kuala Lumpur, Malaysia, 1 Oktober 2021. (Foto: Lim Huey Teng/Reuters)

Dewan Negara-Negara Produsen Kelapa Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) menyebut tudingan bahwa sawit menyebabkan biodiversity loss (kehilangan keanekaragaman hayati) tidak berdasar. 

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal (Wakasekjen) CPOPC, Musdhalifah Machmud, data menunjukkan populasi satwa liar seperti gajah dan spesies endemik di Indonesia maupun Malaysia tetap stabil, meski perkebunan sawit terus berkembang.

“Bukan karena kelapa sawit,” ujar Musdhalifah baru-baru ini. “Kematian satwa liar itu hal alami, sama seperti manusia, ada yang mati karena usia, penyakit, atau sebab lain. Pemburuan juga masih terjadi, dan itu bukan akibat sawit.”

Musdhalifah mencatat, antara tahun 1978 hingga 2000, perluasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak diikuti penurunan populasi gajah endemik. 

Tren yang sama juga muncul di Malaysia (1963–1997) dan Thailand(1991–1998), di mana populasi gajah tetap stabil meski luas areal sawit meningkat signifikan. Jika digabungkan, data ketiga negara tersebut (1968–2017) menunjukkan populasi gajah Asia relatif stagnan meski ekspansi sawit terus terjadi.

Ia juga menampilkan data untuk satwa lain seperti orangutan, badak, harimau, dan tamarin. Pada rentang waktu 1963 hingga 2001, populasi orangutan di Sumatera, Kalimantan, dan Sabah tidak mengalami penurunan tajam meski luas perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia terus meningkat. 

Demikian pula dengan populasi badak di tiga negara penghasil sawit (Indonesia, Thailand, dan Malaysia) yang justru menunjukkan tren stabil hingga awal 2000-an.

Sementara itu, data populasi harimau di Malaysia dan Indonesia (1973–2001) menunjukkan kestabilan yang sama. Bahkan di Kolombia, populasi monyet Cotton-Top Tamarin tidak menunjukkan penurunan berarti di tengah ekspansi sawit pada periode 1993–2001.

Musdhalifah menekankan pentingnya menyampaikan informasi berbasis data agar persepsi negatif terhadap  sawit bisa diluruskan. Ia berharap lembaga riset seperti BRIN dapat terus memperkaya basis data dan riset mengenai hubungan antara sawit dan biodiversitas.

“Data dan riset sangat penting untuk memperkuat narasi. Kami di CPOPC akan terus mengkomunikasikan dan menarasikan fakta ini, serta meyakinkan para konsumen di dunia bahwa kelapa sawit berperan penting dalam ekonomi hijau yang berkelanjutan,” ujarnya.

Musdhalifah menambahkan, negara-negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia harus terus memperkuat kolaborasi untuk menunjukkan bahwa pembangunan industri sawit telah lama mengedepankan prinsip keberlanjutan.

“Sejak tahun 2011, kita sudah mengedepankan sustainability development dengan adanya  IndonesianSustainable Palm Oil (ISPO). Kalau di Malaysia, mereka dengan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO),” ujarnya.

Ia juga menyoroti kemajuan teknologi yang mendorong efisiensi dan inklusivitas dalam pengembangan sawit. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa industri sawit terus beradaptasi menuju sistem produksi yang lebih berkelanjutan.

“CPOPC berkomitmen bekerja sama dengan BRIN agar setiap langkah yang kami ambil berbasis evidence-based, menggunakan dokumen dan kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” tutup Musdhalifah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini