
Sawit merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang tidak pernah sepi dari sorotan dunia. Sorotan itu datang seiring pesatnya perkembangan industri sawit nasional, baik dari sisi hulu maupun hilirnya.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Olvy Andrianita dalam diskusi Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan (ETIKAP) Ke-6 Tahun 2025, yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta Selatan, Rabu (11/6).
Olvy mengenang bahwa sawit dulu kerap menjadi sasaran kritik global. Komoditas ini sering disebut sebagai penyebab kerusakan hutan, kebakaran lahan, hingga dikaitkan dengan dampak negatif terhadap kesehatan, seperti kolesterol tinggi.
“Dulu sawit paling kencang dihujat sebagai perusak orangutan. Kemudian dianggap tidak sehat, merusak lingkungan. Katanya banyak kebakaran gara-gara sawit Indonesia. Banyak orang cancer, kolesterol gara-gara sawit Indonesia. Ada benarnya sih, tapi sedikit,” kata dia.
Namun Olvy menekankan bahwa sawit tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Justru sebaliknya, sawit adalah komoditas yang sangat efisien dan produktif dibandingkan dengan dibandingkan kompetitornya.
“Bukan berarti ini benar-benar salah sawit ya. Faktanya adalah sawit itu adalah produk yang sangat produktif, karena 5 kali lebih efisien kalau hasil kajian kami dan juga beberapa analisis ya,” ujar dia.
Selain itu, sawit memiliki fungsi yang sangat multifungsi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari produk makanan seperti roti dan gorengan yang menggunakan minyak sawit, hingga produk rumah tangga seperti sabun mandi dan deterjen untuk mencuci pakaian.
Tidak hanya itu, sawit juga digunakan sebagai bahan baku untuk energi terbarukan. “Jadi, sawit ini memang betul-betul produk yang dibutuhkan di global market, di international market. Semua industri butuh sawit,” kata dia.
Namun, menurut Olvy, dinamika permintaan sawit di pasar global, terutama di Eropa, cukup kompleks dan penuh dualisme. Di satu sisi, Eropa sangat membutuhkan sawit sebagai bahan baku produk seperti cokelat, Nutella, dan berbagai produk butter.
Di sisi lain, Eropa juga memiliki minyak nabati seperti minyak zaitun, rapeseed, dan sunflower oil. Kondisi inilah yang memicu gejolak di pasar Eropa dan menimbulkan berbagai isu lahirnya deforestation, isu lingkungan, environment sustainable, traceability, dan zero emission.
“Jadi, lahir regulasi seperti EUDR (European Union Deforestation Regulation) dan sejumlah regulasi lainnya,” ujar Fajarini.
Dalam hal perdagangan, sawit juga menjadi salah satu komoditas yang paling sering terkena trade remedies, termasuk kasus dumping yang bahkan sampai ke ranah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Sawit juga termasuk komoditi yang paling banyak dihujat trade remediesnya, ada dumpingnya, bahkan sampai ke WTO. Biodiesel kita sudah kena,” kata dia.
Mengenai harga, Olvy mengungkapkan, referensi harga sawit Indonesia masih banyak mengacu pada Bursa Malaysia dan pasar internasional. Meskipun pemerintah sudah menggagas pembentukan Bursa CPO Indonesia, geliatnya belum maksimal.
“Saya mendukung penuh bagaimana Bursa CPO Indonesia bisa menjadi pengatur atau penyeimbang harga di pasar global. Karena kalau harga kita diatur oleh pasar dunia, kita bisa rugi. Nilai yang masuk ke dalam negeri pun belum maksimal,” imbuh dia.




























