Industri Oleokimia Kian Diminati Investor

0
minyak oleokimia sawit

Industri oleokimia berkontribusi bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Sebagai produk turunan sawit, industri oleokimia mampu menciptakan lapangan kerja, investasi, penerimaan pajak, pembangunan infrastruktur dan stimulus ekonomi daerah.

Hal ini terungkap dalam Seminar Oleokimia yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) dan Majalah Sawit Indonesia bertemakan “Ragam Industri Pengguna Produk Oleokimia Indonesia” di Jakarta, awal Juli 2019. Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

Pembicara yang hadir antara lain Aziz Pane (Ketua Umum APBI), Dr.Liandhjani (Ketua Bidang Industri Perkosmi), Lila Harsya (Kemenperin), dan Dr.Ir. Tatang Hernas Soerawidjaja (Ketua Ikatan Ahli Bioenergi).

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) menjelaskan, jumlah perusahaan oleokimia terus meningkat sepanjang tiga tahun terakhir. Jumlah perusahaan oleochemical di Indonesia tahun 2016 sebanyak 17 perusahaan kapasitas produksi 10.970.700 ton/tahun dengan nilai investasi mencapai Rp 4,7 triliun.

Selanjutnya dari 2017-2018 terdapat 19 perusahaan dan tahun 2019 naik menjadi 20 perusahaan dengan total kapasitas produk oleokimia nasional sebanyak 11,326 juta ton/tahun. Penambahan investasi industri oleokimia di awal tahun 2019 mencapai Rp 4,84 triliun.

Pada 2019, dari total kapasitas produksi oleokimia 11,326 juta ton terdiri dari fatty acid 4,55 juta ton, fatty alcohol 2,12 juta ton, gliserin 883.700 ton, metil ester 1,93 juta ton dan soop nodle berjumlah 1,83 juta ton.

“Kenaikan produksi tahun ini ditopang investasi baru dua perusahaan oleokimia yang berlokasi di Dumai (Riau). Selain itu, dua perusahaan tadi sudah menjadi anggota Apolin,” ujar Rapolo.

Adapun volume ekspor produk oleokimia dengan 15 HS code tahun 2017 sebesar 1,9 juta ton, tahun 2018 meningkat menjadi 2 juta ton. Nilai ekspor tahun 2017 sebesar US$ 1,5 miliar dan US4 2,3 miliar di tahun 2018.

Oleokimia digunakan pada industri deterjen, farmasi, ban, kosmetik dan industri lainnya. “Pengembangan produk oleokimia juga menjadi tantangan ke depan. Riset menjadi tulang punggung industri ini dalam mengembangkan produk oleokimia,” katanya.

Abdul Rochim Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian menambahkan, peran industri oleokimia sangat strategis karena mampu mengolah sumber daya minyak kelapa sawit yang melimpah dan menjadi building block bagi pertumbuhan industri hilir terkait. ***NM, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini