Lahan Kakao Makin Terbatas, APKAI Dorong HGU Mati Jadi Kebun Kakao

0
pohon kakoa yang baru selesai dipangkas
Kakao baru dipronen siap mulai fase pertumbuhan baru.

Keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani kakao Indonesia untuk meningkatkan produksi. Ketua Umum Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) H. Arif Zamroni menilai perlu ada sumber lahan baru yang dapat dikembangkan untuk perkebunan kakao, termasuk memanfaatkan hak guna usaha (HGU) yang sudah tidak aktif.

Arif mengatakan sekitar 99 persen produksi kakao Indonesia berasal dari perkebunan rakyat. Namun, di tengah tingginya harga kakao, pengembangan produksi masih menghadapi persoalan keterbatasan lahan, tanaman yang sudah tua, hingga alih fungsi kebun.

“Satu-satunya cara mungkin adalah pengembangan lahan baru,” kata Arif pada webinar Tabloid Sinar Tani, Jakarta, Rabu (9/9).

Menurutnya, pengembangan lahan baru perlu melihat berbagai alternatif, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan lahan pertanian. Salah satu yang dapat dipertimbangkan adalah pemanfaatan HGU yang sudah tidak aktif.

Selain itu, APKAI juga mendorong pengembangan kakao melalui skema perhutanan sosial dengan konsep agroforestri. Arif mengatakan sejumlah kelompok tani hutan (KTH) di berbagai daerah sebenarnya sudah siap untuk terlibat dalam pengembangan kakao.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait persyaratan dan akses program yang dinilai belum mudah dipenuhi oleh kelompok tani.

“Perhutanan sosial sebagai materi dari agroforestry juga lebih kencang lagi untuk dikembangkan komoditas kakao. Sebenarnya di KTH-KTH, di beberapa tempat di kami ini sudah siap,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan lahan kakao tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama di setiap daerah. Pemanfaatan HGU yang sudah tidak aktif maupun kawasan perhutanan sosial, menurut dia, membutuhkan pembahasan yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

“Itu memang perlu pembicaraan cara spesifik. Tidak bisa dibicarakan cara umum sehingga kurang mengena seperti itu,” katanya.

Selain persoalan lahan, Arif juga menyoroti kondisi tanaman kakao rakyat yang sebagian sudah memasuki usia tua. Produktivitas kebun pun menghadapi tekanan akibat perubahan iklim, terutama kondisi kering yang dinilai semakin sering terjadi.

Di sisi lain, saat ini petani  tengah menikmati harga kakao yang tinggi. Namun, Arif berharap tingginya harga kakao dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali produksi nasional melalui pengembangan lahan baru sekaligus peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada.

Menurut dia, tantangan kekeringan perlu menjadi perhatian serius melalui dukungan riset dan pengembangan teknologi yang dapat membantu petani menghadapi perubahan iklim.

“Produktivitas kakao memang dengan adanya iklim kering yang luar biasa ini akan terpengaruh. Saya berharap nanti teman-teman riset bagaimana bisa mengatasi kekeringan-kekeringan yang memang ke depan menjadi tantangan yang hampir tiap tahun datang,” ujarnya.

Arif menambahkan, asosiasi petani siap terlibat dalam pengembangan kakao nasional. Karena itu, dia berharap petani dan asosiasi dapat lebih banyak dilibatkan dalam pembahasan maupun pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan komoditas kakao.

Menurutnya, pelibatan petani penting agar kebijakan yang disusun dapat menjawab persoalan di lapangan, mulai dari keterbatasan lahan, tanaman tua, perubahan iklim, hingga akses kelompok tani terhadap berbagai program pengembangan kakao.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini