Mentan Amran Bersama Mahasiswa Papua Gagas Gerakan Kembali Berkebun

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di kediamannya di Jakarta, Kamis (2/7).

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman bersama 150 mahasiswa Papua menggagas Gerakan Kembali Berkebun sebagai upaya membangun ekonomi masyarakat dari tanah sendiri melalui pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal.

Mentan Amran berharap Gerakan Kembali Berkebun menjadi titik awal lahirnya generasi baru petani muda Papua yang mampu mengembangkan potensi daerahnya, memperkuat ketahanan pangan lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Tanah Papua. 

“Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kita tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” ujarnya saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di kediamannya di Jakarta, Kamis (2/7). 

Mentan Amran menegaskan, pembangunan pertanian Papua harus bertumpu pada kekuatan komoditas lokal dan pemanfaatan lahan yang dimiliki masyarakat.

“Kita harus membangun ekonomi dari desa. Mahasiswa seperti kalian adalah putra-putri terbaik Tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan, dan lahan yang harus dibangun,” kata Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, keterlibatan mahasiswa menjadi strategi penting dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Papua. Pemerintah ingin generasi muda Papua tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja melalui pertanian modern berbasis potensi daerah. 

Karena itu, ia mengajak mahasiswa yang masih memiliki lahan keluarga untuk mulai mengelolanya sejak masih menempuh pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga memutuskan menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda Papua Pegunungan yang sebelumnya telah membuka lahan kopi seluas 48 hektare. 

Selain itu, pemerintah menyiapkan bantuan alat pertanian seperti linggis, sekop, parang, dan peralatan lainnya untuk mendukung pengembangan pangan lokal, khususnya ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Mentan Amran.

Salah seorang peserta dialog, Ronaldo Jakub Inesta, mahasiswa asal Papua Barat Daya, menyampaikan apresiasi atas respons cepat Mentan Amran terhadap aspirasi mahasiswa. Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang penting bagi mahasiswa Papua untuk menyampaikan langsung potensi daerah kepada pemerintah.

“Menurut saya, Pak Menteri orangnya tegas, rendah hati, dan sangat cekatan. Apa yang kami sampaikan langsung dicatat dan ditindaklanjuti. Kesempatan seperti ini sangat baik karena jarang sekali mahasiswa bisa berdialog langsung dengan seorang menteri. Kami bisa menyampaikan potensi daerah kami masing-masing agar pemerintah mengetahui langsung kekuatan pertanian di Papua,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, menilai Gerakan Kembali Berkebun bukan sekadar gerakan ekonomi, tetapi juga upaya menghidupkan kembali identitas budaya masyarakat Papua yang selama ini memiliki keterikatan kuat dengan tanah adat dan komoditas lokal.

“Gerakan kembali ke kebun bukan hanya gerakan ekonomi, tetapi juga gerakan budaya. Kita ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua, sekaligus menjadikan tanah adat sebagai sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan,” kata Velix.

Velix menambahkan, setiap wilayah Papua memiliki keunggulan komoditas yang berbeda, mulai dari ubi jalar di kawasan pegunungan, sagu di wilayah rawa, hingga kopi, kakao, pala, dan berbagai komoditas perkebunan lainnya. 

“Karena itu, pembangunan pertanian berbasis potensi lokal menjadi strategi yang tepat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini