Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menunjukkan keseriusannya dalam mendorong hilirisasi gambir, terlihat dari alokasi anggaran khusus yang telah disiapkan untuk program tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Mentan Amran dalam Rapat Koordinasi (Rakortas) Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan bersama kepala daerah seluruh Indonesia, yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (22/9).
Meskipun tidak menyebutkan secara rinci besaran anggaran yang dialokasikan, Mentan Amran menegaskan kesiapannya membangun infrastruktur pengolahan gambir di daerah penghasil utama.
“Ada komoditas khusus seperti Gambir, aku sudah plotkan anggaran. Pabriknya dibangun,” kata Mentan Amran.
Mentan Amran menyebut, Indonesia saat ini memenuhi sekitar 80 persen kebutuhan gambir dunia, namun nilai ekonominya masih minim karena diekspor dalam bentuk mentah.
Padahal, sambungnya, gambir punya potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari tinta pemilu, sampo, sabun, kosmetik, hingga skincare.
“80 persen kita memenuhi kebutuhan gambir dunia. Jangan kirim daun, jangan kirim batangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hilirisasi gambir bisa menghasilkan nilai tambah luar biasa jika dikelola dengan benar. Berdasarkan hitungan akademisi dari perguruan tinggi, potensi nilai ekonomi gambir bisa mencapai Rp 5.000 triliun.
“Seluruh komoditas yang permintaannya (demand) tinggi tingkat dunia, kami pilih 14 komoditas. Salah satunya gambir, yang potensi nilainya bisa mencapai Rp 5.000 triliun,” ujarnya.
Menurut Mentan Amran, yang juga pendiri Tiran Group, Indonesia punya kekuatan besar untuk menguasai pasar dunia hanya dengan satu komoditas, yaitu gambir.
“Kalau kita mau naikkan harga, Pak Gubernur, caranya gampang. Kurangi sedikit ekspornya, harga akan naik. Kita bisa kendalikan dunia lewat gambir, begitu juga lewat kelapa,” sambungnya.






























