
Permintaan gula dalam negeri terus meningkat, namun produksi nasional masih belum mampu memenuhinya secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar gula dalam negeri masih menjanjikan.
Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, menjelaskan bahwa salah satu kendala utama adalah rendahnya produktivitas tebu di tingkat petani serta semakin menyusutnya luas areal tanam.
“Kita belum bisa sepenuhnya stop impor gula karena produksi belum memadai, sementara demand terus naik. Maka dari itu, semestinya produktivitas ditingkatkan dan pemerintah menyerap tebu petani untuk dijadikan cadangan,” ujar Eliza kepada Majalah Hortus, Jakarta, Senin (23/6).
Menurut data yang disampaikan Eliza, sekitar 60 persen kebutuhan gula nasional masih dipenuhi dari impor. Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi masalah efisiensi pengolahan yang rendah, terutama ditandai oleh tingkat rendemen yang jauh tertinggal dari negara lain.
“Tingkat rendemen tebu kita hanya sekitar 7 persen, sedangkan Thailand mencapai 11,82 persen. Artinya, dari 100 kg tebu yang digiling, Indonesia hanya menghasilkan 7 kg gula, sementara Thailand bisa menghasilkan hampir 12 kg,” jelasnya.
Rendemen merupakan ukuran penting dalam industri gula karena menunjukkan seberapa efisien tebu diolah menjadi gula kristal. Semakin tinggi rendemen, semakin banyak gula yang dihasilkan dari jumlah tebu yang sama. Eliza menambahkan, rendahnya rendemen di Indonesia disebabkan oleh usia mesin pabrik yang sudah sangat tua.
“Banyabk pabrik-pabrik gula yang mesinnya sudah tua bahkan ada yg lebih dari 100 tahun usianya. Jadi, memang perlu direvitalisasi jika ingin meningkatkan produksi gula tidak hanya meningkatkan produktivitas tebu, namun juga meningkatkan tingkat rendemennya,” ujarnya.
Namun begitu, ia menegaskan bahwa upaya revitalisasi industri gula tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu langkah bertahap dan terukur agar bisa memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dalam negeri.
“Revitalisasi ini proses jangka menengah sampai panjang, jadi tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan nasional secara cepat. Tapi ini penting untuk kemandirian pangan kita ke depan,” kata Eliza.
Untuk memperkuat industri gula nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor, sarannya, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis yang menyentuh akar permasalahan. Pertama, pemerintah perlu mengembangkan ekosistem riset dan inovasi di sektor gula.
Menurut Eliza, riset yang terintegrasi akan mendorong lahirnya teknologi pengolahan yang lebih efisien, peningkatan produktivitas pabrik, serta pengembangan varietas tebu unggul yang adaptif terhadap kondisi iklim dan lahan lokal.
“Perlu pengembangan ekosistem riset dan inovasi pada industri gula sehingga produktivitas industri dapat ditingkatkan dan efisien,” kata Eliza.
Kedua, pemerintah juga perlu melakukan revitalisasi pabrik gula. Pasalnya, banyak pabrik gula di Indonesia masih menggunakan mesin-mesin tua yang bahkan berasal dari zaman penjajahan Belanda. Usia peralatan yang sudah mencapai ratusan tahun ini menyebabkan proses pengolahan menjadi tidak efisien dan berdampak langsung pada rendahnya rendemen gula nasional.
“Jadi, pemerintah perlu melakukan revitalisasi pabrik-pabrik dan mesin-mesinnya yang usianya sudah sangat tua, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda,” kata Eliza.
Ketiga, peningkatan produktivitas pabrik gula, khususnya gula kristal putih berbasis tebu lokal, harus didorong lewat pemberian insentif dan fasilitas kredit.
Saat ini, katanya, pasar didominasi oleh gula kristal putih dan gula rafinasi yang berbasis raw sugar impor. Idealnya, kredit untuk sektor gula bersifat multiyears dengan jangka waktu minimal dua tahun.
“Lembaga yang menjadi penyangga industri ini perlu dibentuk sebagaimana halnya BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) yang dibentuk untuk mengurusi perkebunan sawit nasional,” katanya.
Di sisi hulu, pemerintah juga perlu memberikan pupuk khusus untuk tanaman tebu. Pemupukan yang tepat akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas lahan dan kualitas tebu yang dihasilkan petani.
“Pemberian pupuk khusus untuk tebu sangat penting agar produktivitas bisa meningkat,” pungkas Eliza.





























