Ketua Komisi IV DPR RI, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau yang biasa disapa Titiek Soeharto mendorong pemerintah untuk segara mewujudkan swasembada beras dan gula agar Indonesia tidak bergantug lagi pada impor.
Hal ini disampaikannya saat menghadiri Rembuk Tani Menuju Swasembada Gula Nasional bersama petani tebu di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (8/7).
“Kami dari komisi IV mendorong pemerintah untuk segera mewujudkan swasembada di bidang pertanian, baik swasembada beras, maupun swasembada gula. Intinya jangan ada impor-impor lagi,” kata Titiek.
Titiek menegaskan, pihaknya akan terus mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) serta kementerian terkait lainnya agar memberikan dukungan maksimal kepada petani, terutama dalam bentuk bantuan dan kemudahan akses pembiayaan.
“Intinya kami mendorong Kementan dan kementerian yang terkait pangan ini bisa memberikan bantuan-bantuan sebanyak mungkin kepada para petani, sehingga swasembada ini bisa tercapai secepat-cepatnya,” tambahnya.
Titiek menyatakan, pemerintah melalui Mentan Andi Amran Sulaiman menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun depan. Karena itu, pemerintah mulai memberikan kemudahan pembiayaan bagi petan,i salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema baru yang lebih fleksibel.
Dalam skema ini, plafon kredit sebesar Rp 500 juta tidak lagi dihitung secara akumulatif, sehingga petani tetap dapat mengakses pinjaman setiap tahun selama memenuhi persyaratan.
Menariknya, dalam skema ini perusahaan mitra petani akan bertindak sebagai penjamin kredit atau avalis, sehingga petani tidak lagi perlu menyediakan agunan pribadi.
“Kemudahan diberikan kepada petani dalam bentuk pembiayaan yang tidak lagi ditanggung oleh petani, melainkan oleh pabrik melalui skema avalis. Ini adalah kebijakan baru,,” imbuhnya.
Sementara itu, Mentan Amran menambahkan, selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga akan melakukan
program bongkar ratun nasional tiga tahun berturut-turut untuk meningkatkan produktivitas.
“Kenapa rendemen tidak pernah berubah? Ini karena regulasi yang ada. Ini cara tanamnya di belakang, maaf, ini bermacam-macam varitas, dan itu harus dibongkar ulang. Kita target 3 tahun bongkar ulang semua seluruh Indonesia, ada 500.000 hektare,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan, Indonesia saat ini memiliki 796.621 petani tebu yang mengelola 520.823 hektare lahan panen. Sebanyak 83,5 persen tebu di Jawa berasal dari petani rakyat, namun mayoritas adalah tanaman ratun tua yang menyebabkan penurunan rendemen.
Kajian menunjukkan bongkar ratun dapat meningkatkan produksi hingga 15,5 ton/ha dan rendemen dari 7,29 persen menjadi 7,65 persen. Namun, implementasinya masih terbatas pada 8,27 persen lahan, jauh dari standar ideal 20 persen.
Tak hanya sebagai sentra produksi, Yogyakarta juga digagas sebagai pusat agroedukasi, wisata industri gula, dan inkubator inovasi teknologi tebu bersama kampus dan lembaga terkait lainnya. Langkah-langkah strategis ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengembalikan kejayaan gula Indonesia.






























