Peluang Hilirisasi Kelapa di Tengah Pergeseran Pola Konsumsi Global

0
kelapa bulat yang sudah dipisahkan dari sabutnya.
Kelapa bulat (Foto: Kemendag)

Ekspor pertanian sampai dengan Agustus 2025 mencapai Rp 507.78 triliun. Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebut angka ini naik 42,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu 2024.

Menurut Amran, lonjakan ekspor tersebut tidak lepas dari komoditas perkebunan, salah satunya adalah kelapa. Komoditas ini turut menjadi pendorong kenaikan ekspor berkat tingginya  permintaan pasar global.

“Ekspor pertanian itu naik 42,19 persen dibanding 2024. Ekspor kita kenapa meningkat? Ada yang menarik, salah satu contoh Kelapa,” ujar Amran saat menyampaikan Satu Tahun Kinerja Pembangunan Pertanian Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, Jakarta, Rabu (22/10).

Tingginya permintaan dari pasar global berdampak pada pasokan di dalam negeri. Industri di dalam negeri kesulitan mencari bahan baku.

“Kelapa, bahkan industri dalam negeri itu agak kesulitan. Kenapa? Harga kelapa tiba-tiba naik. Dari Rp 1.300 per kilogram tiba-tiba naik Rp5.000—Rp 10.000 per kilogram,” ujar Amran.

Dia menyebutkan adanya pergeseran pola konsumsi di negara-negara konsumen, terutama di China, India, dan Uni Eropa, dari yang semula mengonsumsi susu hewani menjadi susu nabati yang dinilai lebih sehat.

“Dan ada pergeseran pola konsumsi. Pola konsumsi China, India, dan Eropa. Ada coconut milk. Ini dikonsumsi karena ini sehat. Dari dulunya susu bergeser ke itu (susu kelapa),” jelas Amran.

Sebagai produsen kelapa, lanjut Amran, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan tren tersebut. Karena itu, Presiden Prabowo mendorong agar dilakukan hilirisasi industri kelapa guna meningkatkan nilai tambah ekspor.

“Nah, sekarang kita, Bapak Presiden minta hilirisasi agar ekspornya lebih tinggi. Tahu? Sekarang harga Rp 1.350 per kilogram. Kalau ini dihilirisasi kita ekspor VCO dan air kelapa kita kemas dengan baik itu sekarang ekspor Rp 24 triliun,” ujar Amran.

Amran menegaskan, inilah maksud Presiden untuk mendorong hilirisasi, sehingga yang diekspor bukan lagi bahan baku, tapi produk jadi dengan nilai tambah tinggi.

Selain kelapa, Amran juga menyebutkan komoditas kakao sebagai contoh lain. Menurut dia, kakao bisa proses di dalam negeri sehingga menjadi coklat.

“Jadi, yang kita ekspor adalah coklat, bukan kakao mentah. Ini berbeda dengan selama ini yang sering mengekspor kakao mentah ke negara lain,” ujar dia.

Menurut Amran, hal ini merupakan salah satu mimpi besar untuk masa depan, di mana Indonesia dapat meningkatkan nilai ekspor dengan mengembangkan hilirisasi komoditas unggulan.

“Dengan hilirisasi, potensi peningkatan nilai ekspor bisa mencapai ribuan triliun,” pungkasnya.

(Supianto)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini