Road Test B50 Baru Dimulai Dua Minggu Lalu

0
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, mandatori biodiesel berhasil menekan impor sola Indonesia sepanjang tahun 2025. Dok: ESDM

Pemerintah tengah melakukan road test alias uji jalan B50, bahan bakar solar dengan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit, sebelum kebijakan tersebut diterapkan secara nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, pengujian B50 dilakukan di berbagai moda dan sektor strategis, mulai dari alat berat, kereta api, kapal laut, hingga alat dan mesin pertanian.

“Tesnya mulai sekarang itu butuh waktu enam sampai tujuh bulan.  Startnya baru dua minggu lalu, ini masih berproses,” ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (20/12).

Dia menjelaskan, respons mesin kendaraan terhadap penggunaan biodiesel campuran 50 persen umumnya baru dapat dilihat setelah dua hingga tiga bulan sejak pengujian dilakukan. Karena itu, pemerintah membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian teknis.

Dengan jadwal pengujian tersebut, Bahlil memastikan penerapan B50 baru dapat dilakukan paling cepat pada semester kedua, sepanjang hasil uji jalan menunjukkan kinerja mesin tetap optimal.

“Dengan time schedule seperti itu, dapat dipastikan apabila B50 sukses dalam tes, maka implementasinya kemungkinan besar dilakukan pada semester kedua,” ujar Bahlil.

Mengacu pada catatan Kementerian ESDM, pemanfaatan biodiesel sepanjang 2020–2025 telah berkontribusi besar terhadap penghematan devisa negara, dengan nilai mencapai US$ 40,71 miliar.

Seiring rencana penerapan B50, pemerintah memproyeksikan potensi tambahan penghematan devisa sebesar US$ 10,84 miliar dalam satu tahun implementasi, yakni pada 2026.

Secara teknis, kebijakan B50 disiapkan untuk menutup sisa kebutuhan impor solar yang masih ada dalam skema campuran biodiesel 40 persen yang berlaku saat ini. Pada 2025, impor solar diperkirakan masih mencapai 4,9 juta kiloliter atau sekitar 10,58 persen dari total kebutuhan nasional.

Melalui peningkatan porsi bahan bakar nabati atau FAME dalam campuran solar, Kementerian ESDM menargetkan volume impor tersebut dapat sepenuhnya tergantikan, sehingga pasokan solar nasional berasal dari sumber daya domestik.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini