
Perum Bulog telah merealisasikan penyerapan beras nasional lebih dari 3,2 juta ton atau mencapai 80 persen dari target 4 juta ton hingga 29 Juni 2026. Capaian tersebut setara dengan pembelian gabah lebih dari 6 juta ton dari petani di seluruh Indonesia.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, capaian tersebut menunjukkan kinerja penyerapan Bulog terus meningkat dan masih berpeluang bertambah hingga akhir tahun.
“Jadi, sudah di atas 3,2 juta ton yang sudah diserap oleh Bulog. Berarti kalau berasnya 3,2 berarti gabahnya lebih dari 6 juta ton,” ujar Rizal saat mendampingi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meninjau stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Kantor Wilayah Bulog DKI Jakarta dan Banten, Jakarta Utara, Senin (29/6).
Ia juga menyampaikan, stok beras yang dikuasai Bulog kini mencapai 5,4 juta ton. Menurutnya, angka tersebut menjadi stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka dan diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berlangsungnya musim panen.
“Ini membanggakan. Stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Apalagi menjelang 17 Agustus 2026 ini akan memecahkan rekor tertinggi nanti di bulan Agustus 2026,” kata Rizal.
Ia menjelaskan, tingginya serapan tidak terlepas dari produksi gabah nasional yang diperkirakan mencapai hampir 36 juta ton sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut dimanfaatkan Bulog untuk menyerap hasil panen petani secara maksimal.
Purnawirawan perwira tinggi TNI AD itu memperkirakan serapan beras Bulog dapat mencapai lebih dari 4,5 juta ton, bahkan hingga 5 juta ton pada akhir 2026.
“Serapan sampai bulan Juni ini sudah mencapai 80 persen dari total target 4 juta ton berarti lebih dari 3,2 juta ton. Nah ini masih ada 6 bulan lagi ke depan. Jadi, prediksi serapan kami mungkin bisa di atas 4,5 atau bahkan sampai 5 juta ton,” ujarnya.
Ekspor Beras
Seiring meningkatnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), Bulog mulai menyiapkan penyaluran beras ke pasar internasional. Salah satu pasar yang tengah dijajaki adalah Malaysia dengan potensi ekspor mencapai 500 ribu ton.
“Kami dalam waktu dekat akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran,” ujarnya.
Selain Malaysia, Bulog juga menerima permintaan dari Uni Emirat Arab sekitar 50 ribu ton beras per bulan atau setara 600 ribu ton per tahun. Peluang ekspor juga terbuka ke Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini.
“Kami berharap Bulog bisa menjual produk-produk beras Indonesia ke dunia internasional dan pasar-pasar internasional,” kata Rizal.
Untuk mendukung peningkatan CBP, Rizal mengatakan, Bulog mendapat anggaran pembangunan 100 gudang pada 2026. Selain itu, Presiden juga telah menyampaikan dukungan agar pembangunan 100 gudang tambahan dilanjutkan pada 2027.
“Tujuannya supaya produk yang jumlahnya luar biasa itu bisa tersimpan dengan baik di gudang milik Bulog,” ujarnya.





























