Sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko), Airlangga Hartarto mendorong pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi terbarukan.
Airlangga mengatakan, budidaya kelapa sawit sendiri telah memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar, namun juga penuh dengan tantangan lingkungan.
Setiap tahun, sejumlah besar biomassa yang dihasilkan dari budidaya kelapa sawit dibuang. Ini termasuk tandan buah kosong, batang pohon, limbah cair, dan cangkang inti sawit.
Daripada menganggap produk sampingan tersebut sebagai limbah, hal itu harus dianggap sebagai sumber daya berharga semisal untuk produksi biofuel, bioplastik, dan pupuk organik.
“Valorisasi bahan baku dari limbah sawit dan pertanian di Indonesia merupakan sebuah game changer karena akan menjadi salah satu hal yang mendorong penerapan ekonomi sirkular yang menyeimbangkan perlindungan lingkungan/tanggung jawab ekologis dengan pertumbuhan ekonomi. Kita dapat memastikannya dengan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan,” jelas Airlangga dalam keterangannya, Rabu (2/10).
Di antara banyak produk sampingan industri sawit, salah satu sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan yakni cangkang inti sawit. Dengan nilai kalori yang sebanding dengan batu bara peringkat rendah, cangkang inti sawit berpotensi untuk mentransformasi lanskap energi di Indonesia.
Produksi cangkang inti sawit dapat melebihi 13,4 juta ton, dan meningkatnya penggunaan cangkang sebagai bahan bakar boiler di pabrik kelapa sawit menandai pergeseran signifikan menuju solusi energi yang lebih ramah lingkungan.
Kualitas cangkang inti sawit Indonesia, khususnya yang bersumber dari Pulau Sumatera terkenal unggul, sehingga menempatkan Indonesia sebagai pemimpin di pasar negara berkembang.
“Pemerintah Indonesia secara aktif menjajaki potensi co-firing palm kernel shell dengan batu bara peringkat rendah di pembangkit listrik dalam negeri. Kami yakin upaya ini akan menghasilkan solusi inovatif yang bermanfaat bagi perekonomian dan lingkungan,” jelas Menko Airlangga.
Selain itu, Indonesia memproduksi 3,9 juta ton minyak goreng bekas (atau UCO) pada 2023 dan UCO digunakan sebagai bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Di samping itu, Indonesia sedang mempertimbangkan untuk mengusulkan pengupas inti sawit sebagai bahan baku baru untuk dimasukkan dalam daftar positif Skema Penyeimbangan dan Pengurangan Karbon untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan untuk penerbangan internasional.
Pengupas inti sawit juga dapat digunakan sebagai bahan baku produksi pakan ternak, dan juga berpotensi untuk digunakan sebagai produksi bioetanol.
“Menghargai limbah sawit dan pertanian dapat menghasilkan peluang ekonomi, khususnya di daerah pedesaan. Dengan berinvestasi pada praktik-praktik ini, kita dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani kecil, serta memperkuat mata pencaharian masyarakat setempat. Ini lebih dari sekadar keberlanjutan, sebab ini tentang memberdayakan masyarakat kita,” ungkap Airlangga.
Airlangga juga menekankan bahwa untuk mencapai semua tujuan tersebut, Indonesia memerlukan kebijakan kuat dan kolaborasi antar seluruh pemangku kepentingan. Kerangka kerja yang mendukung akan merangsang investasi dalam penelitian dan inovasi, sehingga membuka jalan bagi industri minyak sawit yang lebih berkelanjutan.






























