Apkasindo Tanggapi Rencana Prabowo Tambah Luas Kebun Sawit

0
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dr. Gulat ME Manurung. (Foto: Ist)

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia perlu menambah penanaman sawit di Indonesia.

Pernyataan Prabowo soal penambahan penanaman sawit ini disampaikan di Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Musrenbangnas RPJMN) 2025-2029.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Apkasindo, Gulat ME Manurung mengatakan, arahan Presiden tentang membuka kebun sawit yang baru adalah dalam arti luas untuk produktivitas  jadi jangan disalah arahkan.

“Oleh karena itu, kita harus sepaham bahwa meningkatkan produktivitas sawit itu dapat dilakukan melalui dua cara, pertama intensifikasi dan kedua ekstensifikasi,” ujar Gulat dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (3/12).

Melalui intensifikasi, kata Gulat, peningkatakan produktivitas sawit dilakukan melalui Program Replanting atau PSR (Peremajaan Sawit Rakyat). Dengan PSR, produktivitas sawit rakyat akan naik 3–4 kali lipat.

Dia menyebut, produktivitas kebun sawit rakyat baru 25–30 persen dari potensinya. Saat ini, produktivitasnya hanya 400 kg—900kg TBS/Ha/Bulan (rendemen hanya 18-22 persen) atau produktivitasnya 1,5 ton-2 ton CPO/Ha/tahun.

“Setelah replanting akan naik menjadi 2,5 ton-3,5 ton TBS/Ha/tahun dengan rerata rendemen 26-32 persen atau produktivitas CPO naik menjadi 6 ton—8 ton CPO/Ha/tahun setelah PSR,” jelas Gulat.

Selain itu, peningkatkan produktivitas juga dapat dialkukan dengan penambahan luas kebun atau ekstensifikasi. Penambahan luas kebun ini masih terbuka luas mengingat hutan Indonesia masih jauh lebih luas di atas standar minimun.

“Namun kami menyarankan lebih mengoptimalkan tanah terdegredasi atau terlantar, eks pertambangan atau klaim kawasan hutan yang sudah tidak berhutan sebagaimana rekomendasi hasil riset Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB tahun 2023,” tutur Gulat.

Menurut dia, sawit memiliki sifat sama dengan tanaman hutan bahkan di berbagai sisi memiliki sifat bahkan lebih baik dari tanaman hutan dalam menghasilkan Oksigen, menyerap CO2 dan hemat menggunakan air.

“Adalah sangat benar Pidato Presiden Prabowo bahwa sawit itu tanaman, memiliki daun hijau, batang, dan akar, nggak ada bedanya dengan tanaman lain,” kata Gulat.

Gulat mengatakan, kampanye nagatif selama ini adalah politik perdagangan jadi harus dilawan dengan politik juga. “Nggak bisa hanya jadi penurut saja dan statemen Pak Prabowo sangat berkelas merah putih,” tagas Gulat.

Selanjutnya, Gulat menegaskan bahwa moratorium itu jangan diartikan sempit. Moratorium itu adalah tidak membuka hutan yang masih berhutan untuk perkebunan sawit.

“Jadi anggapan yang salah selama ini harus diluruskan. Moratorium yang salah kaprah selama ini sangat menguntungkan negara produsen minyak sawit lainnya seperti Malaysia sekaligus juga menguntungkan negara produsen minyak nabati selain sawit,” kata Gulat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini