
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan, pemerintah sedang menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.
Menurut Sudaryono, kedelai merupakan bahan pangan penting yang banyak dikonsumsi masyarakat, terutama untuk olahan seperti tempe dan tahu. Namun hingga kini, Indonesia masih mengimpor karena produksi lokal belum mencukupi.
“Itu yang saat ini sedang kita persiapkan ke sana. Termasuk kedelai. Kedele itu kita makan kedelai banyak, tempe, tahu, dan seterusnya, tapi memang masih impor,” ujar dia dalam kunjungan kerjanya ke Sukabumi, Jawa Barat, Jumat kemarin.
Sudaryono menjelaskan, ada pandangan dari para ahli yang menyebut bahwa kedelai merupakan tanaman subtropis, sehingga pertumbuhannya kurang optimal jika dibudidayakan di iklim tropis seperti Indonesia.
“Ada ahli mengatakan bahwa kedelai itu adalah komoditas atau komoditi subtropis. Jadi, dia (kedelai) tumbuh optimal di iklim subtropis. Jadi, tidak akan optimal di iklim tropis seperti kita,” jelas Sudaryono.
Meski demikian, pemerintah tidak menyerah. Sudaryono menyebut, kunjungannya ke Wageningen University and Research (WUR) di Belanda baru-baru ini merupakan bagian dari upaya mencari solusi atas tantangan produksi kedelai di Indonesia.
“Nah, kemarin salah satu tujuan saya ke Belanda adalah untuk mencari solusi. Bisa tidak? Mestinya bisa. Padi saja yang biasanya ditanam di tanah atau air tawar, sekarang bisa dipanen di air payau atau salin water,” ujar Sudaryono.
Pria kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 23 Januari 1985 ini meyakini bahwa dengan dukungan inovasi dan teknologi, tantangan dalam produksi kedelai di Indonesia dapat diatasi.
“Kami meyakini, dengan riset dan teknologi, serta pemanfaatan DNA, genom, dan bioteknologi, kita mampu menciptakan kedelai yang hasilnya setara dengan negara subtropis. Dengan demikian, kita tidak perlu lagi mengimpor kedelai dalam jumlah besar,” jelas dia.
Hal yang sama juga berlaku untuk komoditas bawang putih dan gandum. Menurut Sudaryono, ketergantungan Indonesia pada impor dua komoditas ini masih sangat tinggi.
“Kita ini makan roti, makan mie, itu yang paling banyak dan paling besar. Impor kita juga besar. Maka Presiden ingin mencari solusi. Bisa nggak gandum ditanam di kampung kita?” ujar Sudaryono.
Dia menegaskan bahwa saat ini pemerintah sedang berupaya untuk mengeksplorasi kemungkinan tersebut. “Nah, ini yang lagi kita coba. Kita harus uji coba, Pak. Harus kita coba. Kalau hasilnya jelek, kita perbaiki terus.”
Sudaryono juga menjelaskan bahwa program pemerintah untuk kemandirian pangan tidak hanya berfokus pada beras, tetapi juga pada komoditas lain yang dibutuhkan masyarakat.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, program pemerintah untuk swasembada pangan itu bukan hanya beras, tapi juga ke arah komoditas lain yang memang kita butuhkan dan bisa mengurangi ketergantungan impor,” imbuh dia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia telah mengimpor kedelai sebanyak 2,16 juta ton sepanjang periode Januari— September 2024. Total nilai impor kedelai tersebut mencapai sekitar US$1,15 miliar atau setara Rp 17,98 triliun.
Indonesia mengimpor kedelai terutama dari Amerika Serikat (AS) dengan porsi mencapai 1,93 juta ton, senilai US$1,03 miliar. Kemudian 0,21 juta ton dari Kanada, senilai US$110,98 juta. Dan dari Malaysia sebanyak 0,01 juta ton, senilai US$2,69 juta ton.




























