
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor non-migas Indonesia terus menguat hingga September 2025. Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyampaikan, peningkatan ekspor secara kumulatif didorong oleh sektor industri pengolahan dan pertanian.
“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama peningkatan ekspor non-migas sejak Januari hingga September 2025, dengan andil sebesar 12,58 persen,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/11).
Dia mencatat, ekspor sektor industri pengolahan mengalami kenaikan cukup besar, terutama dari minyak sawit (CPO), logam dasar bukan besi, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.
Sepanjang Januari hingga September 2025, nilai ekspor CPO dan turunannya naik 32,40 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bersama besi baja dan batu bara, ketiga komoditas ini memberikan kontribusi sekitar 28,58 persen terhadap total ekspor non-migas Indonesia.
Secara total, nilai ekspor non-migas mencapai USD 199,77 miliar, meningkat 9,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pada September 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 24,68 miliar atau naik 11,41 persen dibandingkan September 2024. Dari jumlah tersebut, ekspor non-migas tercatat USD 23,68 miliar, tumbuh 12,79 persen secara tahunan.
Peningkatan kinerja ekspor bulan September terutama didorong oleh lonjakan ekspor logam mulia dan perhiasan (HS71) yang naik 168,57 persen dengan andil 5,66 persen; besi dan baja (HS72) yang naik 23,67 persen dengan andil 2,48 persen; serta lemak dan minyak nabati (HS15), termasuk CPO, yang tumbuh 18,00 persen dengan andil 1,70 persen.
Jika dilihat menurut sektor, pada September 2025, industri pengolahan masih mendominasi dengan kontribusi USD 19,90 miliar, disusul sektor pertambangan dan lainnya sebesar USD 3,16 miliar, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar USD 0,63 miliar.
“Secara tahunan, sektor pertanian dan industri pengolahan mengalami kenaikan, sementara sektor pertambangan menurun. Peningkatan ekspor non-migas utamanya berasal dari sektor industri pengolahan yang tumbuh 20,25 persen dengan andil 15,13 persen,” terang Pudji.
Adapun dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tiga pasar ekspor utama Indonesia dengan total kontribusi 41,81 persen. Ekspor ke Tiongkok mencapai USD 46,47 miliar, naik 9,19 persen dibandingkan Januari–September 2024.





























