
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mendorong pemanfaatan greenhouse untuk budidaya cabai guna menjaga produksi tetap stabil meskipun menghadapi cuaca ekstrem.
Dengan teknologi greenhouse, kata Arief, petani cabai dapat melindungi tanaman dari dampak buruk musim kemarau yang kering dan panas serta musim hujan yang dapat merusak tanaman, sehingga hasil panen dapat terjaga sepanjang tahun.
“Cabai itu kalau hujan bunganya itu rontok. Sehingga, dia tidak bisa sampai berbuah. Ke depan pertaniannya itu jangan terbuka, tetapi harus ada cungkupnya atau ada greenhouse-nya,” kata Arief ditemui di Pasar Johar, Jakarta, Rabu (5/3).
Bekas Direktur Utama Food Station Tjipinang ini mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan kepada kementerian teknis dan dinas pertanian agar dapat membantu penyediaan cungkup-cungkup untuk tanaman cabai.
“Tanaman cabai itu kan bisa dipanen hingga 20 kali. Jadi, kalau daunnya rontok, sebenarnya cuma perlu cungkup untuk melindunginya,” ujar Arief.
Arief menjelaskan, tingginya harga cabai saat ini disebabkan oleh gagal panen akibat rontoknya bunga cabai selama musim hujan. Hal ini membuat banyak tanaman cabai tidak berbuah, sehingga pasokan terbatas dan harga naik.
Meski demikian, Arief meyakini bahwa harga cabai rawit akan kembali normal mengingat saat ini Indonesia sudah kembali memasuki musim kemarau.
“Akan turun dong. Kan ini kan sudah mulai panas. Mudah-mudahan beberapa minggu ke depan itu cabai bisa lebih baik harganya,” kata Arief.
Di sisi lain, Arief juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai saat ini memiliki sisi positif. Petani kini bisa menikmati harga yang lebih baik setelah beberapa bulan sebelumnya harga cabai sempat jatuh.
“Kemarin dalam rapat terbatas, diingatkan lagi bahwa harga di petani nggak boleh jatuh. Tapi kalau positifnya, harga cabai di petani hari ini sudah recovery. Beberapa bulan lalu, sekitar 3-4 bulan yang lalu, harga cabai sempat jatuh, tapi sekarang sudah kembali pulih,” tutur dia.
Arief menambahkan bahwa petani cabai, khususnya di daerah seperti Probolinggo, Jawa Timur, Magelang, dan Muntilan, sangat terdampak oleh penurunan harga cabai beberapa bulan lalu. Namun, kini harga sudah kembali stabil.
“Karena waktu itu harga cabai jatuh. Kan dari Probolinggo, dari Jawa Timur, semua kan Magelang, Muntilan itu kan jatuh. Sekarang sudah kembali lagi,” kata Arief.
Berdasarkan pantauan Majalah Hortus di Pasar Johar, Jakarta Pusat, harga cabai berkisar di harga Rp 80.000-Rp100.000 per kilogram. Pedagang menyebut cabai rawit sudah mulai mahal sejak tiga hari yang lalu.
Arief menjelaskan, harga cabai yang cukup tinggi ini disebabkan oleh perbedaan antara Pasar Johar dan Pasar Induk Kramat Jati. Pasar Johar merupakan pasar turunan, sedangkan Pasar Induk Kramat Jati menjual komoditas pangan dengan harga yang diterima langsung dari petani atau gabungan kelompok tani (Gapoktan).





























