
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor sawit disebut belum signifikan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi di daerahnya masing-masing.
Deputi Bidang Pengembangan Regional Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas), Tri Dewi Virgiyawanti menyenut, dari empat KEK sawit, hanya KEK Sei Mangkei dan Arun Lhokseumawe yang dinilai cukup baik kinerjanya.
“Yang paling jelek itu sebenarnya KEK sawit, Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). dan Sorong,” kata Virgi dalam seminar ‘Peranan Kawasan Ekonomi Khusus Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Industri Hilir Sawit Bernilai Tambah Tinggi’, Jakarta, Senin (4/11).
Dalam seminar yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ini, Virgi menjelaskan, tujuan utama pemerintah dalam membangun KEK adalah untuk mengembangkan wilayah secara menyeluruh, bukan hanya sektor industrinya saja.
Namun, distribusi KEK di Indonesia masih tidak merata dari sisi kewilayahan. Di Pulau Jawa, terdapat sembilan KEK, sementara di Sulawesi ada tiga, Kalimantan dua, Maluku satu, dan Papua satu.
“Secara keseluruhan, 68 persen KEK berada di kawasan barat, sementara 32 persen sisanya ada di kawasan timur,” kata Virgi.
Di sisi lain, KEK sendiri kinerjanya belum signifikan. Hal itu terbukti dari capaian realisasi investasi pada triwulan 1 2024 baru Rp 15 triliun dari target Rp 71 triliun. Lalu, penyerapan tenaga kerja baru pun baru 9 ribu dari 38 ribu orang yang ditargetkan.
“Apakah KEK ini mampu mendorong ekonomi di kawasan kawasan? Ternyata ini juga belum optimal,” kata Virgi.
Untuk memaksimalkan potensi KEK, pemerintah sedang Menyusun Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2024, setelah RPJMN 2020-2024 baru saja selesai.
“(Evaluasinya) KEK sektor sawit perlu ditingkatkan realisasi investasinya untuk mengatasi pertumbuhan industri yang kecil dan stagnan. Industri pengolahan, hilirisasi sawit perlu diperhatikan untuk mendorong produktivitas sawit saat ini,” ungkap dia.
Sebagai informasi, saat ini sudah 24 KEK yang beroperasi, membentang dari Aceh hingga Papua. Dari jumlah tersebut, 12 KEK fokus pada industri, delapan pada pariwisata, dua di sektor digital, dan dua lagi di sektor jasa.
Dari 24 KEK tersebut, ada empat yang memiliki kegiatan utama terkait pengolahan sawit, yaitu KEK Sei Mangkei di Sumatera Utara, KEK MTBK di Kalimantan Timur, KEK Sorong di Papua Barat Daya, dan KEK Arun Lhokseumawe di Kabupaten Aceh.





























