118 Ribu Hektar Sawit Terserang Ganoderma

0
penyakit sawit
Ilustrasi

Serangan ganoderma mengancam keberadaan kelapa sawit Indonesia. Sebab, tanaman yang terserang mengalami pembusukan dan akhirnya mati. Luas perkebunan sawit Indonesia yang terserang ganoderma mencapai 118 ribu hektar.

Hal tersebut disampaikan Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) saat acara Roundtable Ganoderma Management (RGM), yang bertemakan “Pemanfaatan Biopestisida dalam Pengendalian Ganoderma” di IPB International Convention Center, Bogor, belum lama ini.

Menurut Darmono, saat ini serangan ganoderma tidak pandang bulu terhadap sasaran yang diserang. Apakah perkebunan negara, swasta atau rakyat. Akibat serangan ganoderma ini, kerugiannya sangat besar. Sayangnya banyak perusahaan yang baru sadar karena sebelumnya tidak pernah memperhitungkan penanganan serangan jamur tersebut dalam biaya produksi.

“Saat ini, ganoderma sudah menyerang 30% kawasan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Selain itu juga sudah menyerang Lampung. Adanya ancaman serius ganoderma terhadap industri sawit di Indonesia kini telah menjadi perhatian serius pemerintah,” jelasnya.

Perkebunan kelapa sawit menghadapi ancaman ganoderma yang berpotensi menekan produktivitas sawit nasional. Massifnya serangan ganoderma bisa berakibat negatif terhadap program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sebab, peremajaan sawit akan dikategorikan gagal apabila tanaman terkena serangan ganoderma.

“Dengan demikian aksi peremajaan sawit rakyat juga harus mempertimbangkan risiko jangka menengah tersebut,” jelas Darmono.

Jika perkebunan sawit Indonesia terserang ganoderma, maka pengusaha dan petani bisa mengalami kerugian puluhan triliun.

Untuk itu, Darmono berpendapat, pengendalian ganoderma itu perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak bisa secara parsial. Dengan demikian, kehadiran benih sawit unggul dan moderat toleran terhadap ganoderma bukanlah jaminan akan terbebas dari ancaman ganoderma. Menurutnya, penyebutan benih moderat toleran karena memang tidak ada yang absolut tahan terhadap Ganoderma.

darmono taniwiryono
Darmono Taniwiryono (DOK. HORTUS)

Dikatakannya, ada sejumlah pertimbangan kenapa tanaman sawit tidak bebas sepenuhnya dari serangan ganoderma. Di antaranya akibat tekanan faktor lingkungan abiotik yang bervariasi. Kejadian penyakit di satu daerah bisa berbeda di daerah lain dengan latar belakang genetik tananaman yang sama.

“Ganoderma mampu beradaptasi melalui rekombinasi seksual membentuk galur-galur baru, menyebabkan patahnya ketahanan tanaman,” ujarnya.

Oleh karena itu, Darmono menyarankan agar perusahaan kebun tidak boleh melupakan komponen pengendalian terpadu lainnya seperti penghancuran sumber inokulum, pemupukan yang berimbang antara pupuk kimia dan organik, penggunaan musuh alami, dan pembuatan parit isolasi, tidak dilakukan atau dilupakan.

Apabila cendawan ganoderma di lingkungan sawit sulit berkembang, maka pembentukan galur baru juga bisa dicegah. “Itu sebabnya eksplorasi materi genetik yang membawa ketahanan dan produktivitas tinggi tetap diperlukan,” ungkapnya.

Darmono menambahkan, perlu memberikan apresiasi kepada perekayasa dan pemulia tanaman sawit. Konsorsium riset ganoderma yang pernah dideklarasikan perlu segera dijalankan karena untuk menanggulangi penyakit busuk pangkal batang yang saat ini menggerogoti perkebunan kelapa sawit.

Menurut dia, ganoderma menjadi ancaman baru bagi perkebunan sawit yang akan diremajakan. Penggunaan pupuk akan sia-sia dalam rangka peningkatan produktivitas, apabila tanaman terserang ganoderma. Diperkirakan tanaman dapat bertahan dalam kurun waktu 10-12 tahun tanpa dibarengi revitalisasi lahan secara terintegrasi.

Dudi Gunadi, Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian menambahkan, masalah ganoderma telah menjadi perhatian instansinya karena dapat menurunkan produksi sawit nasional. Hal ini karena ganoderma merupakan ancaman bagi industri sawit, terutama sawit rakyat. Untuk itu pemerintah beserta jajarannya telah mempersiapkan berbagai cara untuk menanggulanginya.

“Kami ingin perkebunan sawit khususnya rakyat tidak dirugikan oleh serangan ganoderma. Melalui acara ini, kita harapkan ada solusi bagus untuk mencegahnya,” ujarnya, saat membuka acara tersebut.

Berdasarkan data Ditjenbun, luas perkebunan sawit Indonesia yang terserang ganoderma mencapai 118 ribu hektar. Jika kebun terserang, maka kerugian yang dihadapi pekebun cukup besar mengingat serangan ini bisa menurunkan produktivitas sawit hingga sebesar 40 persen.

“Serangan ganoderma telah meluas, ya ratusan ribu hektar. Dan itu tersebar di sentra-sentra sawit,” ungkapnya.

Hadir sebagai pembicara di Roundtable Ganoderma Management (RGM) antara lain; Dr Gurmit Singh, Dr Abdul Gafur, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, MPOB, dan perusahaan Biopestisida.
Jumlah peserta yang hadir sekitar 200 orang dari kalangan pelaku usaha perkebunan, HTI, akademisi, pemerintah, peneliti, dan mahasiswa. ***SH, NM, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini