Pemanfaatan Batang Sawit Bisa Tekan Laju Deforestasi

0
batang sawit
Ilustrasi
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pelaku industri kelapa sawit mendukung langkah pemerintah untuk mengembangkan potensi kayu batang sawit sebagai bahan baku industri kayu. Apalagi, hingga saat ini batang kelapa sawit belum dimanfaatkan secara optimal.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono menilai apabila pemanfaatan kayu sawit dapat direalisasikan maka hal itu akan bisa menekan laju deforestasi.

Selain itu, lanjut dia, selama ini batang sawit lebih banyak tidak dimanfaatkan seperti dibiarkan membusuk atau dicacah sehingga potensi pemanfaatan untuk dijadikan komoditas lain belum optimal dilakukan.

“Sebenarnya langkah terobosan yang sangat bagus kalau bisnis pemanfaatan kayu sawit dapat direalisasikan, karena juga akan menekan laju deforestasi di negara kita,” kata Mukti di Jakarta, baru-baru ini.

Mukti menambahkan, di luar penggunaan kayu batang sawit untuk industri kayu, batang sawit yang ditebang juga dapat dimanfaatkan menjadi gula merah.

“Di beberapa tempat seperti di Sumatera Utara dan Aceh, sebagian petani ada yang memanfaatkan batang sawit yang ditebang untuk diambil niranya, kemudian dijadikan gula merah,” ungkapnya.

Kepala Puslitbang Hasil Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dwi Sudharto menjelaskan, batang kayu sawit dapat diolah menjadi mebel, kayu lapis, flooring, dan sebagainya.

Selain itu potensi produksi sawit juga dinilai Dwi jauh lebih besar dibandingkan dengan produksi kayu bulat.

Menurut data KLHK kontribusi kayu bulat dari hutan alam (HA) tahun lalu sebesar 17,64% atau 8,59 juta m3. Menurut Dwi, dengan memanfaatkan batang kayu sawit potensi kayu yang dihasilkan lebih dari 100 juta m3.

“Harganya tidak akan jauh beda dengan produk kayu [menggunakan kayu dari hutan alam], kualitasnya bagus setara dengan kayu kelas 2 seperti meranti. Apalagi bila diawetkan jadi lebih bagus, kuat juga, selain itu corak kayu sawit ini cukup unik,” kata Dwi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Potensi ketersediaan bahan baku batang kayu kelapa sawit juga dinilai akan terus tersedia mengingat menurut data Kementerian Pertanian luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 14,03 juta hektar, di mana tiap tahunnya dilakukan peremajaan atau replanting perkebunan sawit oleh para stakeholder terkait.

Wacana untuk memaksimalkan potensi batang kayu sawit pun terus berkembang sejak lama. Lebih-lebih sejak defisit pasokan bahan kayu komersial tahun 2006, ditambah melonjaknya bahan baku kayu akibat nilai tukar rupiah melemah.

Pada 2009, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan bekerja sama dengan PT Inhutani IV Riau, untuk pertama kalinya berhasil menguji coba pemanfaatan batang sawit sebagai bahan venir dan kayu lapis.

Adapun hasilnya memetik sejumlah keuntungan positif. Salah satunya, batang sawit bisa membantu mengurangi penebangan kayu di hutan alam sehingga turut menekan laju deforestasi.

Akan tetapi, menurut Jamal Balfas, penemu kayu berbahan baku sawit sekaligus peneliti dari Balitbang Kemenhut, prosedur pemanfaatan kayu batang sawit sama sekali tidak mudah. Banyak pabrik yang menunda atau berhenti mengoperasikan pengolahan limbah lantaran terkendala masalah birokrasi dan biaya produksi tinggi.

Padahal, jika menimbang prospek jangka panjangnya, potensi batang sawit untuk seluruh komoditas sangat menjanjikan. Merujuk data Badan Pusat Statistik, selama periode 1999-2017 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia perkembangannya terus meningkat.

Pada 2018, total luas perkebunan kelapa sawit mencapai 12,3 juta hektar berdasarkan data Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian .

Sementara itu, menilik luasan kebun kelapa sawit tahun 1991 oleh Kementan, terdapat 1,3 juta hektar kebun yang saat ini telah berumur lebih dari 25 tahun atau memasuki masa replanting. Luasan ini akan meningkat untuk beberapa tahun selanjutnya.

Artinya, banyak batang sawit sebagai bahan baku industri kayu yang bakal terus tersedia. Selain itu, Dwi Sudharto juga menilai potensi produksi sawit akan jauh lebih besar dibandingkan produksi kayu bulat. ***SH, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini