Kinerja Industri Kakao Tetap Kuat bagi Perekonomian Daerah dan Nasional

0
Ahli Madya Direktorat Strategi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Nurlaydi pada acara Press Tour Kontribusi Kakao untuk APBN dan Perekonomian di Bali, Senin (24/11).

Kinerja industri kakao masih kuat dan terus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian, baik di tingkat daerah maupun nasional. Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama penurunan produktivitas akibat banyaknya tanaman kakao yang sudah berusia tua.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahli Madya Direktorat Strategi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Nurlaydi, dalam acara Press TourĀ  ā€œKontribusi Kakao untuk APBN dan Perekonomianā€ yang digelar di Bali, Senin (24/11).

Dia menjelaskan, dari sisi ekspor produk kakao olahan, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dengan nilai ekspor mencapai 2,62 miliar USD. Nilai ini menunjukkan, Indonesia telah melakukan hilirisasi.

“Masih di bawah (negara produsen kakao lainnya). Jadi, sudah diolah kakao yang sudah diolah menjadi makanan dan minuman atau produk lainnya,” ujar dia.

Dari sisi ekspor impor kakao dan olahannya sendiri, Indonesia masih surplus di trade balance kita tuh di 2024 itu naik ya sampai 1,16 miliar USD.

“Ekspor kita tuh untuk produk olahannya sudah banyak tapi kita masih punya PR, kita masih banyak impor juga terutama di cocoa beans,” kata dia. “Tapi secara agregat trade balance, kita masih positif jadi memang prospeknya cerah juga di industri kakao ini.”

Kakao memberikan kontribusi ekonomi yang tidak dapat diabaikan. Walaupun kontribusinya terhadap PDB nasional masih sekitar 3,94 persen dalam lingkup sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, kakao menyumbang hampir 30 peraen dari total nilai tambah sektor tersebut.

“Artinya di sini pertanian kakao memang dari sektor pertanian yang strategis ya yang bisa berkontribusi signifikan jugaĀ  terhadap PDB nasional,” tutur dia.

Selain itu, industri pengolahan kakao semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama pengolahan cokelat dunia.

Efek berganda (multiplier effect) di sektor ini juga besar karena melibatkan banyak tenaga kerja, terutama dari perkebunan rakyat serta unit pengolah hasil (UPH) yang memperkuat rantai pasok.

“Tenaga kerja banyak jadi menjadi denyut nadi ekonomi di pedesaannya pengembangan UPH-nya juga bisa memperkuat rantai pasok dari industri kakao ini sendiri ini untuk kontribusi PDB,” tutur dia.

Senada, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPB) Bali, Muhamad Mufti Arkan menjelaskan bahwa kakao memberikan kontribusi penting bagi ekonomi Bali.

ā€œDi Bali, kakao termasuk penyumbang pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama pada sektor pertanian dan perkebunan. Selain mendorong Produk Domestik Regional Bruto (BDRB), kakao juga menyerap tenaga kerja, terutama pada masa pandemi,ā€ ujar dia.

Muhamad Mufti menambahkan, kakao di Bali juga berkontribusi pada devisa melalui ekspor dan mendukung nilai tukar petani, yang secara konsisten berada di atas angka 100.

ā€œUntuk yang di Bali Kakao ini termasuk yang menyumbang Nilai tukar petani yang cukup besar Karena dia selalu di atas 100 Yang lain kadang di bawah 100 dia di atas 100,ā€ kataĀ Muhamad Mufti.

*Produktivitas Membaik, Tapi Produksi Turun*

Meski berbagai indikator ekonomi menunjukkan arah positif, tantangan serius masih menghantui sektor hulu kakao.

Produktivitas kebun rakyat sebenarnya mulai membaik dalam dua tahun terakhir, setelah sempat menurun pada periode 2021–2023. Namun peningkatan ini belum mampu mengimbangi penurunan luas lahan dan jumlah petani.

Data menunjukkan produksi kakao terus menurun sejak 2020 hingga 2025. Jumlah petani kakao menyusut, karena banyak yang beralih ke sektor pekerjaan lain.

Luas lahan perkebunan kakao terus berkurang, berdampak langsung pada total output nasional.

Meski menghadapi penurunan produksi dan tekanan struktural di hulu, kekuatan industri pengolahan, meningkatnya ekspor olahan, serta surplus perdagangan menunjukkan bahwa masa depan kakao Indonesia masih memiliki peluang besar.

Dengan penguatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan revitalisasi kebun rakyat, sektor kakao dipandang tetap berpotensi menjadi salah satu penopang utama perekonomian pertanian nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini