Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyoroti pentingnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai upaya untuk meningkatkan produksi sawit nasional.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyarankan agar regulasi terkait PSR disederhanakan, mengingat hal ini dapat menjadi solusi atas penurunan produksi.
“Indonesia tidak hanya menjadi eksportir terbesar kelapa sawit, tetapi juga konsumen utama produk turunan sawit,” kata Eddy dikutip dalam keterangan resminya, Jakarta, Minggu (6/10).
Di samping itu, Eddy juga menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi oleh industri kelapa sawit Indonesia saat ini memerlukan dukungan riset dan pengembangan yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Dia menekankan pentingnya peran BPDPKS dalam pendanaan riset di sektor hulu, yang menurutnya sudah memberikan hasil positif. Salah satu contoh nyata adalah proyek mendatangkan bibit unggul dan serangga penyerbuk dari Afrika Barat yang sedang berjalan.
Eddy menambahkan, program riset yang didanai BPDPKS saat ini fokus pada penelitian terapan, yang secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas nasional.
Dia mengakui bahwa sebelumnya ada beberapa riset yang kurang aplikatif, namun sekarang BPDPKS sudah lebih tepat sasaran dengan hanya mendukung riset-riset terapan.
“Sekarang riset terapan sudah berjalan baik dan tidak sekadar untuk menaikkan reputasi peneliti,” pungkas Eddy.






























