Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan, Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita yang ditetapkan dan masih berlaku adalah Rp14.000 per liter atau Rp 15.500 per kg.
Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga menanggapi keluhan kenaikan harga Minyakita yang disampaikan oleh pedagang.
“Kami mengimbau kepada distributor Minyakita untuk tetap mengikuti aturan HET yang masih berlaku,” tegas Wamendag Jerry usai meninjau Pasar Cisaat di Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (25/6).
Dia mengatakan, Kemendag secara aktif melakukan pantauan harga dan ketersediaan bahan pokok langsung ke pasar tradisional, ritel modern, pengecer, pedagang, dan distributor.
“Hal tersebut guna memastikan rantai pasok berjalan dengan lancar, stok tersedia, dan harga bapok terjangkau bagi masyarakat,” ujar Wamendag Jerry.
Diakui Wamendag Jerry bahwa beberapa komoditas bahan pokok saat ini memang mengalami fluktuasi harga, namun relatif stabil dan kondusif secara umum.
“Hasil dialog dengan pedagang, memang ada fluktuasi harga komoditas. Namun ketersediaan stok aman dan terjaga. Itu yang penting,” terang Wamendag Jerry.
Dia menilai ketersediaan stok bahan pokok yang aman dan terjaga merupakan hasil kolaborasi antara Kemendag dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Kerja sama dan sinergi ini akan terus berlanjut agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan tenang,” ucap Wamendag Jerry.
Kenaikan HET Minyakita
Isu kenaikan minyak goreng rakyat ini sebelumnya disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan. Dia bilang harga Minyakita akan naik menjadi Rp 15.500 per liter.
“Sudah dibikin dan juga dibahas. Kenaikannya minggu depan,” ucap Zulkifli di Surabaya, Jawa Timur, dikutip dari Antara, Jumat (21/6).
Zulhas mengatakan, pihaknya mengusulkan kenaikan karena sudah waktunya untuk mengikuti nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang saat ini sudah melebihi Rp 16.000.
Selain itu, HET Minyakita yang berlaku saat ini, dinilainya sudah tidak sesuai lagi dengan biaya pokok produksi yang terus mengalami perubahan.
“Karena kan disesuaikan juga, dulu kan rupiah Rp 14.500, sekarang sudah Rp 16.000 lebih. Nanti khawatir kalau nggak disesuaikan ekspornya jauh beda harganya. Nanti kami kurang lagi,” kata Zulhas.






























