Wamentan Sudaryono Sebut Sawit Jadi Sasaran Perang Persepsi Negara Asing

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menyebut sawit sebagai “miracle crop” atau tanaman unggulan Indonesia. Dok: Ist

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan, sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia yang selama ini menjadi sasaran perang persepsi oleh negara-negara asing.

Menurut Sudaryono, kampanye negatif terhadap sawit muncul karena minyak nabati asal Indonesia dinilai lebih efisien dan lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain yang diproduksi negara-negara Eropa.

“Jadi Anda semua sebagai generasi terbaik Indonesia, jangan termakan propaganda. Kenapa Asing seolah-olah anti-sawit sama kita? Karena minyak nabati dia itu tidak laku atau kurang diminati atau kurang efisien dibanding minyak sawit kita,” ujar Sudaryono dikutip dari Channel YouTube Total Politik, Jumat (7/5).

Ia menjelaskan, produktivitas sawit Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.  Produksi minyak dari satu hektare kebun sawit setara dengan hasil minyak dari delapan hingga 15 hektare kebun bunga matahari.

“Kalau Anda lihat kebun bunga matahari, tidak ada pohonnya Pak. Itu sudah jelas secara ekologi, sawit itu lebih efektif dan lebih efisien. Lantas kenapa sawit seolah-olah jahat?” kata Wamentan Sudaryono.

Mas Dar, sapaan Sudaryono, menilai berbagai kebijakan yang dikeluarkan Uni Eropa, seperti  European Union Deforestation Regulation (EUDR) sebagai upaya mempersulit akses sawit Indonesia ke pasar global.

“Eropa tidak mau minyak sawit kita itu dipersulit dengan EUDR lah, deforestasi lah, inilah, itulah. Karena sawit kita itu lebih efisien,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan, apabila negara-negara lain benar-benar peduli terhadap isu lingkungan, seharusnya mereka mendukung pengembangan sawit di Indonesia karena produktivitasnya lebih tinggi dan penggunaan lahannya lebih hemat.

“Kalau bangsa lain begitu peduli dengan ekologi dan ekosistem dunia, maka harusnya dia investasi tanam kebun sawit satu hektar di Indonesia, dia reboisasi kebun bunga matahari di negaranya lima belas hektare. Apakah dia mau lakukan itu? Tidak mau Pak,” tegasnya.

Tokoh muda asal Grobogan itu menyebut  sawit sebagai “miracle crop” atau tanaman unggulan Indonesia karena memiliki beragam manfaat, mulai dari sumber pangan hingga energi.

“Sawit ini miracle crop, ini championnya Indonesia. Tidak tumbuh di banyak negara dan kita 60 persen sawit yang beredar seluruh dunia ini berasal dari Indonesia. Bisa jadi energi, bisa jadi pangan. Jadi, konotasi atau propaganda sawit ini sudah saya dengar lama,” ujarnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa seluruh pengembangan kebun sawit berdampak buruk terhadap lingkungan. Ia menilai berbagai tudingan terkait kerusakan ekologi hingga ancaman terhadap satwa liar merupakan bagian dari propaganda yang telah lama berkembang.

“Yakinlah bahwa semua kebun sawit yang dibangun itu secara ekologi ada kajiannya,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini