Pemerintah Siapkan Konsorsium Riset untuk Komoditas Langganan Impor

0

Pemerintah tengah serius mengembangkan empat komoditas utama, yaitu gandum, kedelai, bawang putih, dan jagung, yang selama ini masih bergantung pada impor.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengatakan, setiap komoditas ini akan memiliki flagship riset berupa konsorsium, yang melibatkan peneliti dari perguruan tinggi, Kementerian Pertanian, serta pelaku industri.

“Ini nanti akan ada flagship, ada semacam kelompok konsorsium penelitian, meneliti riset pengembangan dan pengaplikasianya,” kata Wamentan Sudaryono di Jakarta, Rabu (28/5).

Sebagai contoh komoditas bawang putih, akan ada satu kelompok yang terdiri dari peneliti perguruan tinggi, staf teknis dari Kementan, dan pelaku industri terkait yang akan saling terkoneksi.

“Sehingga dari hulu sampai hilir, dari nol sampai dengan final, betul-betul kita bisa kontrol, bisa kita manage, satu komando bisa kita kerjakan,” tutur Mas Dar, sapaan Wamentan Sudaryono.

Dengan pendekatan ini, dia berharap, komoditas-komoditas yang selama ini sebagian besar masih bergantung pada pasar luar negeri bisa tercapai secara bertahap dan menuju swasembada seperti yang diharapkan.

“Presiden keinginannya adalah komoditas ini yang kita sebagian besar masih impor ini bisa pelan-pelan kita kurangi impornya menuju swasembada seperti yang beliau inginkan,” tutur dia.

Mas Dar mengatakan, kampus-kampus di Indonesia penuh dengan peneliti berkualitas, dan hasil penelitian yang dihasilkan tidak kalah dengan negara lain.

Oleh karena itu, dia optimistis produktivitas empat komoditas utama ini dapat ditingkatkan secara signifikan.

“Ini tinggal bagaimana antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi  yang membawahi semua universitas dan peneliti nyambung dengan kami, di Kementan,” kata dia.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan bahwa pihaknya telah menetapkan empat flagship riset nasional yang fokus pada masing-masing komoditas.

Pemerintah menyiapkan anggaran antara Rp 20 hingga Rp 40 miliar untuk mendukung kegiatan riset, mulai dari tahap dasar hingga komersialisasi.

“Ini konsorsium lengkap. Kita libatkan dosen, peneliti, dan praktisi yang memahami seluruh rantai produksi, dari varietas unggul, teknologi budidaya, pengendalian hama, hingga alat dan mesin pertanian,” jelas Brian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini