Kementan Gerak Cepat Kendalikan Ulat Artona Catoxantha dan Opisina Arenosella

0
Pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 9 triliun yang dialokasikan untuk pelaksanaan program peremajaan selama tiga tahun.

Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pengendalian serangan ulat Artona catoxantha dan Opisina arenosella di Kabupaten Jembrana, Bali.

Menurut informasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali serangan tersebar OPT tersebut telah menyebar di wilayah Subak Buana Merta Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana seluas 15 hektare.

Berdasarkan laporan tersebut Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (BPTPH BUN) Provinsi Bali pada tanggal 1 Juli 2024 melakukan identifikasi dan gerakan pengendalian dengan melibatkan Subak Abian atau kelompok tani.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Kementan, Heru Tri Widarto mengatakan, gerakan pengendalian ini dapat berhasil dengan adanya partisipasi aktif dari para petani dan semua pihak terkait.

“Harapannya, kegiatan ini dapat berhasil menurunkan tingkat serangan hama ulat secara signifikan, dan jaga kualitas produksi,” ujar Heru dikutip Majalah Hortus dalam keterangan resminya, Jakarta, Rabu (8/10).

Heru mengatakan, pihaknya terus konsisten memberikan pendampingan dan rekomendasi kepada petani kelapa dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Pada Agustus 2024 lalu, Ditjenbun diwakili oleh POPT Direktorat Perlindungan Perkebunan (Ditlinbun), bersama BBPPTP Surabaya melakukan kunjungan lapang Desa Tuwed, Kecamatan Melaya dan Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan.

“Kunjungan dilakukan dalam rangka untuk menentukan rekomendasi pengendalian dan kebutuhan bahan pengendali. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan pengendalian,” ungkap Heru.

Ditlinbun dan BPTPH menyerahkan bantuan berupa insektisida nabati berbahan aktif eugenol dan azadirachtin kepada kelompok tani di Desa Tuwed dan Desa Pekutatan untuk bahan pengendali hama Artona catoxantha dan Opisina arenosella di lokasi yang belum dilakukan pengendalian.

Selain itu, diberikan juga feromon dan perangkap serta jamur Metarhizium anisopliae sebagai Agen Pengendali Hayati hama kumbang kelapa (Oryctes dan Rhyncophorus) di Desa Pekutatan.

Dari hasil pengamatan dan kolaborasi bersama tim Ditjen Perkebunan telah dilakukan beberapa aksi nyata, salah satunya sosialisasi ke petani dan petugas PPL tentang pengenalan OPT, gejala serangan dan siklus hidup hama serta rekomendasi pengendalian atau penanganan yang tepat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini